Pesona Senuji, Baju Adat Flores Timur

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Masyarakat di beberapa kecamatan di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Demon Pagong dan Lewolema selalu mengenakan baju adat Senuji setiap kali ada acara adat atau acara-acara resmi lainnya.

“Menyulam dalam bahasa Lamaholot dinamakan Senuji sehingga bajunya dinamakan baju Senuji, karena dibuat dengan cara disulam atau disuji,” sebut Yuliana Hingi Koten, saat ditemui di rumahnya di Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, NTT, Minggu (26/9/2021).

Warga Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, NTT, Yuliana Hingi Koten yang biasa membuat baju adat Senuji saat ditemui di desanya, Minggu (26/9/2021). Foto: Ebed de Rosary

Yuliana menyebutkan, baju adat ini berbahan kain berwarna hitam dan putih yang dijahit menjadi baju, lalu disulam dengan benang berwarna merah dan kuning di bagian depan, lengan dan leher.

Ia mengakui, sejak kecil melihat tetua adat mengenakan baju ini saat ada acara adat menanam padi di ladang dan kini baju Senuji mulai banyak dikenakan orang, termasuk dijadikan baju pengantin.

“Saya mulai belajar untuk menyulam baju ini dengan motif huruf S sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya akhirnya bisa menyulam sendiri sehingga mulai memproduksi baju ini,” ungkapnya.

Yuliana menyebutkan, sejak adanya festival budaya yang mulai digelar di Flores Timur, membuat baju adat Senuji dan kain tenun mulai ramai dicari orang untuk dikenakan.

Dia katakan, baju Senuji harus dikenakan dengan kain tenun atau sarung yang dalam bahasa daerah Lamaholot disebut Kwatek, kain tenun yang dikenakan para perempuan.

Sementara itu jelasnya, kain tenun untuk laki-laki dinamakan Nowi’n atau sering disebut Nowing.

“Baju Senuji dikenakan dengan kain tenun atau kain sarung. Ada berbagai motif untuk setiap wilayah di berbagai kecamatan yang ada di Flores Timur,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Pemangku Adat Demon Pago, Frans Beribe menjelaskan, baju adat Senuji biasa menggunakan sulaman dengan motif huruf S di bagian bajunya.

Frans menuturkan, huruf S tersebut lambang ular naga, sebagai lambang kekuatan serta erat hubungannya dengan proses menanam.

Ia sebutkan, baju Senuji tersebut dikenakan sebagai penghormatan terhadap dewi padi atau Nogo Gunu, Ema Hingi, saat ritual adat menanam padi di ladang.

“Baju adat Senuji sejak dahulu selalu dikenakan saat ritual menanam padi di ladang sebagai penghormatan terhadap dewa padi atau Nogo Gunu. Huruf S bisa dilambangkan sebagai ular yang erat kaitannya dengan ritual menanam,” ujarnya.

Frans mengatakan, kehadiran ular di kebun oleh masyarakat Lamaholot dianggap sebagai penunjuk atau pertanda bahwa kebun tersebut akan mendapatkan hasil panen berlimpah.

Lihat juga...