Petani di Flores Perlu Produksi Kopra Putih

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Para petani kelapa di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini masih memproduksi kelapa menjadi kopra hitam dan belum beralih memproduksi kopra putih.

“Kami mencoba memberikan penyadaran kepada petani agar beralih memproduksi kopra putih agar bisa meraih pendapatan yang lumayan,” sebut Rikardus Umbu, pengusaha asal Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT saat dihubungi, Senin (27/9/2021).

Pemilik usaha pengolahan kopra putih di Kelurahan Weri, Larantuka, Flores Timur, NTT, Rikardus Umbu (kanan) bersama Lukman Riberu saat ditemui di tempat usahanya, Rabu (22/9/2021). Foto: Ebed de Rosary

Icad sapaannya mengatakan, harga kopra hitam yang selama ini diproduksi petani di Flores Timur dibeli dengan harga Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogramnya.

Sementara untuk kopra putih paparnya, satu kilogramnya dijual dengan harga minimal Rp13 ribu dan proses produksinya lebih mudah.

Dirinya pun memberanikan diri membuat usaha produksi kopra putih di rumahnya dan bersedia bekerjasama dengan petani dalam memproduksi kopra putih.

“Kami membangun usaha produksi kopra putih dan produk turunannya sebab melihat potensi kelapa yang sangat luar biasa dari Kabupaten Flores Timur. Selama ini petani belum memproduksi kopra putih,” ucapnya.

Icad menegaskan selalu berusaha untuk lebih memberdayakan petani kopra dan kelapa di Flores Timur agar bisa menaikkan harga jual produk kopra.

Sebutnya, orientasi bisnis yang dikembangkan mendukung sebuah bisnis berkelanjutan dan secara sosial ekonomi berdampak terhadap petani itu sendiri.

“Selama ini masyarakat petani kita mengalami kendala terkait distribusi dan pemasaran. Makanya kami membuka jalur rantai pasok dan penjualan khususnya di produk kelapa dan turunannya,” ungkapnya.

Icad menegaskan, jadi bukan isi kelapa saja yang bisa dijual petani namun batok kelapa dan sabuk kelapa juga bisa dijual.

Pihaknya pun akan menampung sabuk dan batok kelapa untuk diolah dan diekspor ke luar negeri karena sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan eksportir.

“Kita fokus pada usaha dengan memberdayakan petani dan memberikan pendapatan yang lebih tinggi. Kita fokus pada sesuatu yang baik maka akan mendatangkan kebaikan bagi kita bersama,” ucapnya.

Sementara itu, Lukman Riberu salah seorang pengusaha dan putra asli Larantuka, Flores Timur memberi apresiasi atas pengembangan usaha produksi kopra putih dan produk turunannya.

Lukman mengakui banyak warga Flores Timur yang merantau dan sukses namun belum berani untuk kembali ke kampung halaman dan mengembangkan usaha di bidang pertanian dan perikanan.

Padahal kata dia, potensi sumberdaya alam di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan di Flores Timur sangat menjanjikan untuk dikembangkan dengan tetap mengusung konsep pemberdayaan.

“Ke depannya perlu mendapatkan perhatian pemerintah dalam rangka lebih memberdayakan masyarakat. Bisa melalui BUMD dan BUMDes sehingga harga jual komoditi kita terjaga dan tidak dipermainkan tengkulak,” pungkasnya.

Lihat juga...