Petani di Patikraja Masih Enggan Gunakan Pupuk Organik

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS – Setelah panen bulan lalu, para petani di Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, masih belum memulai tanam. Mereka masih membiarkan lahan pertaniannya, menunggu intensitas hujan meningkat.

“Tanam lagi nanti menunggu hujan mulai sering turun. Sebab, untuk awal tanam dibutuhkan air yang cukup banyak dan intens terus-menerus,” kata petani di Desa Notog, Eko Widyatno, Senin (13/9/2021).

Menurut Eko, lahan pertanian di Desa Notog meskipun tidak sepenuhnya sawah tadah hujan dan masih dilalui saluran irigasi, namun sebagian besar merupakan saluran irigasi tersier, sehingga debit air tidak terlalu mencukupi. Petani tetap masih harus mengandalkan air hujan untuk awal tanam.

“Saluran irigasi itu ada tiga jenis, saluran primer atau utama yang berdekatan dengan induk, saluran irigasi sekunder dan saluran irigasi tersier yang letaknya paling ujung dan paling jauh dari induk. Dan, posisi irigasi di Desa Notog ini adalah irigasi tersier, jadi tidak bisa diandalkan sepenuhnya, kita masih tetap harus menunggu hujan,” jelasnya.

Petani di Desa Notog, Eko Widyatno di rumahnya, Senin (13/9/2021). – Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Eko Widyatno mengatakan, hasil panen kemarin tidak terlalu bagus, hanya mendapatkan 4,5 ton hingga paling banyak 5 ton per hektare. Padahal, Eko mengaku sudah menggunakan bibit unggul Inpari 42, namun hasil panen tetap tidak maksimal.

“Normalnya seharusnya bisa antara 6-7 ton per hektare, tetapi kemarin paling banyak hanya 5 ton per hektare,” katanya.

Terkait penggunaan pupuk organik, Eko mengatakan sebagian besar petani di Notog belum beralih ke pupuk organik. Sebab, untuk lahan pertanian yang sudah terbiasa menggunakan pupuk kimia, jika kemudian beralih ke pupuk organik, maka hasil panen dipastikan akan menurun dratis.

“Sekalipun menggunakan bibit unggul, jika beralih ke pupuk organik hasil panen akan menurun 50 persen lebih, satu hektare lahan bisa hanya menghasilkan 2,5 ton saja,” tuturnya.

Eko menegaskan, jika ada lahan pertanian yang bisa menghasilkan hingga 10 ton per hektare, itu hanyalah prediksi. Namun dalam praktiknya, sangat sulit petani untuk bisa mendapatkan hasil panen di atas 8 ton per hektare.

Petani lainnya, Sunarto, mengungkapkan pada dasarnya petani hanya mengharapkan hasil panen yang bagus dan harga jual yang tidak terlalu rendah. Terkait pupuk organik ataupun kimia, menurut Sunarto petani lebih memilih pupuk yang menghasilkan panen lebih banyak.

“Untuk beralih ke pupuk organik butuh waktu lama, sementara kita dihadapkan pada tuntutan kebutuhan hidup, hasil panen harus bisa untuk menghidupi keluarga,” ucapnya.

Lihat juga...