Petani di Sikka Perlu Lakukan Peremajaan Kakao

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kakao di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak yang perlu dilakukan peremajaan agar hasil produksi kakao bisa meningkat dan penyakit busuk buah bisa hilang.

“Banyak kakao milik petani rata-rata sudah berumur dua puluh tahun sehingga perlu diremajakan,” saran Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung saat dihubungi, Senin (27/9/2021).

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantornya di Kelurahan Beru, Maumere, Sabtu (18/9/2021). Foto: Ebed de Rosary

Win sapaannya mengatakan, peremajaan kakao dapat dilakukan mayoritas petani di NTT yakni dengan cara generatif, menanam kakao menggunakan biji dengan cara dimasukkan ke dalam polybag.

Dia sebutkan, cara generatif dipilih sebab akar tunjangnya akan lebih kuat, dan petani tidak kehilangan pendapatan selama tanaman kakao yang baru belum berbuah dan dipanen.

“Setelah tanaman kakao yang baru sudah berbuah sekitar 2 sampai 3 tahun, baru kakao yang sudah tua ditebang. Petani perlu menggunakan kakao dari bibit unggul agar lebih tahan terhadap hama dan produksi meningkat,” pesannya.

Sementara itu lanjutnya, peremajaan secara vegetatif memang membutuhkan waktu yang lebih cepat, sekitar 9 bulan kakao sudah bisa berbuah dan dipanen.

Namun kata Win, metode vegetatif seperti sambung samping dan sambung pucuk perlu ada pelatihan terlebih dahulu, dan tanaman induk harus dipangkas terlebih dahulu.

“Metode vegetatif sulit diterapkan di kalangan petani karena rata-rata petani tidak mau tanamannya dipangkas atau dipotong. Peremajaan memang harus dilakukan agar produksi meningkat dan penyakit busuk buah bisa hilang,” pesannya.

Win menyayangkan para petani kakao banyak yang tidak menerapkan P3S pada tanaman kakao yakni Panen Sering, Pemangkasan, Pemupukan dan Sanitasi yang baik.

“Bila penerapan P3S tidak dilakukan secara rutin dan teratur maka produksi kakao menurun. Tanaman kakao pun rentan terserang hama penyakit,” ucapnya.

Sementara itu, Don Lewuk menyebutkan, rata-rata umur tanaman kakao di Desa Nebe maupun Kecamatan Talibura di atas 20 tahun. Bahkan ada tanaman kakao yang sudah berumur 30 tahun.

Don mengaku melakukan pembibitan kakao dan menanam di kebun sambil menunggu tanaman kakao yang baru tersebut berbuah, baru tanaman kakao yang lama ditebang.

“Banyak petani yang tidak melakukan peremajaan sehingga tanaman kakao yang ada di kebunnya masih terserang penyakit busuk buah. Buah kakao pun lebih kecil dan produksinya berkurang,” ucapnya.

Lihat juga...