Petani di Situbondo Berbagi Jatah Pengairan

Editor: Koko Triarko

SITUBONDO – Mulai berkurangnya debit air saluran irigasi persawahan di desa Desa Tenggir, Kecamatan Panji, Situbondo, memaksa para petani di daerah itu membagi jatah pengairan.

Sanawi, warga Desa Tenggir, Kecamatan Panji, Situbondo, mengatakan  sistem pembagian pasokan air melalui saluran irigasi mulai diterapkan. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan petani dalam mengairi lahan produksi pertanian miliknya.

“Sejak dua bulan lalu, ketersediaan sumber air untuk kebutuhan lahan pertanian mulai berkurang,” ujar Sanawi di Desa Tenggir, Senin(20/9/2021).

Sanawi menambahkan, keterbatasan sumber air yang tersedia, mengakibatkan proses pasokan air di lahan pertanian mulai berkurang. Sehingga perlu upaya pembatasan pasokan air di masing-masing lahan produksi pertanian, sehingga para petani bisa mendapatkan pasokan air secara merata.

“Saat ini, pasokan air mulai dibatasi. Setiap petani diberi jatah air yang dibutuhkan dalam waktu satu minggu sekali,” ucapnya.

Menurut Sanawi, kebutuhan pasokan air di lahan produksi pertanian masih dirasa cukup, walaupun sebenarnya air yang tersedia sangat kecil.

“Maka itu, setiap petani memiliki waktu tujuh hari untuk mengairi sawahnya masing-masing. Karena dalam satu jalur irigasi terdapat lahan pertanian sekitar delapan hektare. Artinya, lahan tersebut dalam waktu tujuh hari sudah mendapat pasokan air,” jelasnya.

Sanawi mengaku setiap hari harus rutin mengontrol kelancaran air. Bila lalai, bisa menjadi problem konflik antarpetani.

“Dalam waktu tujuh hari, semua lahan harus sudah mendapatkan air. Maka, pembagiannya harus sama dan merata, agar tidak muncul konflik. Sehingga, saya rutin mengontrol kelancaran air setiap harinya,” ungkapnya.

Hartono, petani lain, mengatakan saat ini memilih untuk memproduksi tanaman jagung karena tidak begitu membutuhkan banyak air.

“Tanaman jagung cukup tahan dengan ketersediaan air yang mulai terbatas. Keberhasilan masa panen juga sangat besar,” ucapnya.

Lihat juga...