Petani Garam di Grobogan Menikmati Harga Jual Tinggi

Seorang petani garam bambu di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, tengah menuangkan air garam ke bambu yang menjadi media pengeringan memanfaatkan panas matahari, Rabu (29/9/2021) - foto Ant

GROBOGAN – Sejumlah petani garam di Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), yang mengandalkan cara tradisional memanfaatkan batang bambu dalam penjemurannya, sedang menikmati keuntungan.

Harga jual garam yang mencapai Rp10.000 per kilogram, dinilai sebagai harga yang tinggi. “Harga jualnya memang jauh dibandingkan dengan garam yang dihasilkan petani dengan proses penjemurannya menggunakan media tanah atau tambak, karena harga jualnya tidak sampai Rp3.000 per kilogram. Sedangkan garam bambu mencapai Rp10.000 per-kg untuk kualitas bagus,” kata Muslim, salah satu petani garam bambu di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Rabu (29/9/2021).

Ia mengakui, proses pembuatan garam bambu sangat bergantung dengan cuaca, karena penjemurannya hanya mengandalkan panas matahari. Ketika suasana cerah, produksi garamnya membutuhkan waktu 10 hari. Sedangkan saat mendung dan sesekali turun hujan, membutuhkan waktu yang lebih lama dan kapasitas produksinya juga terbatas, karena untuk penjemuran menggunakan media bambu.

Selain menghasilkan garam dengan harga mahal, aktivitas petani garam bambu yang sudah berlangsung puluhan tahun, juga bisa menghasilkan air bleng sebagai bahan campuran dalam makanan, yang bertujuan untuk memberikan aroma dan rasa khas di samping mengenyalkan dan membuat adonan mengembang.

Kapasitas produksi setiap 10 hari berkisar antara 50 kilogram hingga 1 kuintal garam. Sedangkan untuk garam air bleng, mencapai 80 liter. “Rata-rata per 10 hari, ketika hasil produksi garamnya bagus bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp1,3 juta,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan petani garam lainnya, Suhadi, yang mengakui harga jual garam bambu memang tinggi, bila dibandingkan garam pada umumnya di pasaran. Hanya saja, Suhadi mengaku saat ini kapasitas produksinya tidak banyak, karena usianya sudah mulai tua dan tidak ada yang membantu proses penjemuran air garamnya. “Untuk memindahkan batang bambu yang sudah terisi air garam di bawah panas matahari tidak bisa sendirian, melainkan harus ada tenaga tambahan. Akhirnya produksi garamnya juga terbatas,” ujarnya.

Dalam waktu 10 hari hanya mampu menghasilkan garam sebanyak 50 kilogram. Sedangkan air blengnya juga disesuikan kapasitas produksi garamnya. Karena air bleng dihasilkan dari hasil pencucian garam sebelum dijual ke pasaran.

Biaya untuk memproduksi garam bambu tidak besar, karena air garamnya cukup mengambil dari sumur yang lokasinya juga dekat. Sedangkan bambu untuk penjemurannya dibeli dengan harga Rp50.000 untuk setiap batang, juga bisa digunakan selama tiga tahun.  (Ant)

Lihat juga...