Peternak di NTT Masih Enggan Pelihara Ayam KUB

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Para peternak di Provinsi Nusa Tenggara Timur belum banyak yang memilih beternak ayam Kampung Unggulan Balitbangtan (KUB), meskipun budi daya ayam ini sangat menjanjikan.

Menurut Rofin Muda, peternak ayam KUB di Desa Geliting, Kabupaten Sikka, memelihara ayam KUB lebih menjanjikan karena lebih sering bertelur dan lebih cepat dijual.

“Kandang ayamnya pun hanya menggunakan bahan lokal dari bambu sehingga bisa hemat biaya,” kata Rofin, saat dihubungi, Senin (27/9/2021).

Rofin menyebutkan, saat ini kebutuhan akan ayam kampung sangat tinggi, sehingga dirinya pun mendorong agar para peternak beralih memelihara ayam KUB dibandingkan ayam kampung biasa.

Peternak ayam Kampung Unggulan Balitbangtan (KUB) di Desa Geliting, Kabupaten Sikka, NTT, Rofin Muda, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (11/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menjelaskan, ayam KUB tidak suka mengeram dan hanya tersisa 10 persen seja, sehingga produksi telurnya lebih banyak dibandingkan dengan ayam kampung biasa.

“Produksi telur ayam kampung biasa hanya 146 butir per ekor per tahun, sementara ayam KUB bisa mencapai 180 butir per ekor per tahun. Ayam KUB sudah bertelur ketika memasuki umur 20 minggu sampai 22 minggu,” jelasnya.

Rofin menjelaskan, dalam melakukan budi daya jumlah ayam KUB perbandingannya 1 berbanding 5. Satu ayam jantan dan 5 lainnya ayam betina.

Dirinya pun menyiapkan mesin tetas sendiri, sehingga dalam waktu 21 hari sudah menetas dan ketersediaan stok tetap terjaga dengan baik.

Hal ini penting, menurutnya, sebab dirinya selain menjual telur juga menjual ayam untuk dikonsumsi, sehingga dirinya selalu menjaga agar stok telur dan ayam jangan sampai kosong.

“Saat ini permintaan telur ayam kampung dan dagingnya sangat tinggi, sehingga saya harus benar-benar menjaga agar ketersediaan telur dan ayam terus ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung, menyebutkan para peternak kita lebih banyak memelihara ayam dengan cara tradisional.

Win, sapaannya, belum banyak warga yang memilih fokus beternak ayam kampung dalam jumlah banyak, sama seperti memelihara ayam ras pedaging maupun petelur yang banyak sekali dipelihara di NTT.

“Peternak kita paling-paling hanya memelihara puluhan ekor saja ayam kampung. Ayam hanya dilepas berkeliaran saja saat pagi hari dan sore harinya baru dikandangkan,” ujarnya.

Win menyebutkan, ayam ras baik pedaging maupun petelur mengkonsumsi makanan produksi pabrikan, sementara ayam buras atau ayam kampung makananya berasal dari jagung dan dedak yang bisa diolah sendiri.

Lihat juga...