Pokmaswas di Flotim Kurang Aktif Laporkan Masalah Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Dari sebanyak 50 Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang ada di berbagai desa pesisir di wilayah Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya 10 Pokmaswas saja yang aktif memberikan laporan.

“Hanya 10 Pokmaswas saja yang aktif memberikan laporan di grup media sosial Pokmaswas soal aktivitas menjaga laut dan ekosistemnya,” kata Maria Yosefa Ojan, Kepala Kantor Misool Baseftin Flores Timur, NTT saat dihubungi, Rabu (1/9/2021).

Kepala Kantor Yayasan Misool Baseftin Flores Timur, NTT, Maria Yosefa Ojan, saat ditemui di Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Sabtu (28/8/2021). Foto: Ebed de Rosary

Evi sapaannya mengatakan, Pokmaswas bertugas mengawasi laut dari aktivitas penangkapan ikan secara ilegal dan merusak lingkungan serta melakukan kegiatan konservasi laut dan wilayah pesisir pantai.

Dia paparkan, Pokmaswas sempat tidak aktif dan berhenti beraktivitas namun tahun 2016 bekerjasama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Flores Timur pihaknya mencoba menghidupkan Kembali.

“Dulu Pokmaswas dibentuk dengan surat keputusan kecamatan. Namun setelah dibenahi, Pokmaswas dibentuk dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Pemerintah Desa,” ungkapnya.

Evi sebutkan, awalnya laporan dari Pokmaswas mengenai aktivitas pengeboman ikan termasuk hewan laut yang dilindungi terdampar, terjerat pukat bahkan mati, sering dilaporkan.

Dalam perjalanan kata dia, laporan dari Pokmaswas berkurang dan hanya tersisa 10 Pokmaswas yang aktif memberikan laporan tersebut sehingga pihaknya melakukan pengecekan ke lapangan.

“Kendalanya banyak Pokmaswas yang anggotanya tidak memiliki telepon genggam android sehingga tidak bisa memberikan laporan ke grup. Kami pun turun mengecek ke Pokmaswas,” ucapnya.

Evi katakana, awalnya pihaknya membagikan telepon genggam tapi banyak yang rusak dan jatuh ke laut karena kebanyakan Anggota Pokmaswas merupakan nelayan.

Selain itu tambahnya, kesulitan sinyal dan ketiadaan pulsa telepon ikut andil membuat pengiriman laporan dari Pokmaswas tidak berjalan lancar dan tidak ada sama sekali.

“Kami tidak memiliki program untuk pendampingan Pokmaswas sehingga intervensi bantuan pun tidak bisa dilakukan. Kita berharap pemerintah bisa merespons permasalahan ini,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Tarsisius Buto Muda mengakui, Pokmaswas di desanya memang aktif memberikan laporan soal aktivitas pengeboman ikan dan kegiatan konservasi laut.

Tarsisius sebutkan, laporan terakhir soal aktivitas pengeboman ikan oleh nelayan asal Lamakera Kecamatan Solor Timur di wilayah perairan di dekat desanya sehingga pelaku bisa ditangkap.

“Beberapa bulan lalu Pokmaswas kami memberikan laporan soal adanya aktivitas pengeboman ikan sehingga akhirnya pelaku bisa ditangkap. Pemerintah desa sangat mendukung kegiatan Pokmaswas dalam menjaga laut,” ungkapnya.

Lihat juga...