Pondok Baca Serdadu Kumbang Riangkotek Butuh Donasi Buku

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Pondok Baca Serdadu Kumbang di Horonara, Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih membutuhkan banyak sumbangan atau donasi buku.

“Kami masih membutuhkan banyak sumbangan buku bacaan untuk anak-anak TK dan SD,” sebut Maria Theodora Nogo Koten, saat ditemui di Desa Riangkotek, Selasa (21/9/2021).

Dortin sapaannya, mengakui pondok bacanya pun masih membutuhkan banyak buku, alat tulis serta alat-alat permainan serta mengharapkan bantuan dari orang lain.

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini menjelaskan pondok baca ini beranggotakan sekitar 30 anak yang aktif.

“Pondok baca ini didirikan tanggal 9 Juli 2021 oleh Kaka Astika Koten. Nama Serdadu Kumbang diambil dari nama sebuah film yang tayang perdana tahun 2011 dengan mengambil lokasi syuting di NTB,” ucapnya.

Relawan Pondok Baca Serdadu Kumbang, Maria Theodora Nogo Koten (kanan) dan Maria Golu Koten saat ditemui di desanya, Selasa (21/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dortin menambahkan, pondok bacanya pernah mendapatkan sumbangan buku-buku bacaan dari mahasiswa Undip Semarang yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa ini.

Lanjutnya, pihaknya pun mendapatkan juga sumbangan buku dari Du Anyam tetapi memang masih belum mencukupi karena jumlah anak-anak yang menjadi anggota pondok baca ini tergolong banyak.

“Kami memang masih membutuhkan buku bacaan agar setiap anak bisa baca satu buku. Selain itu ragam bacaan pun bisa lebih bervariasi agar tidak membosankan,” ungkapnya.

Sementara itu, relawan pondok baca Serdadu Kumbang Maria Golu Koten menyebutkan, waktu pembelajaran anak-anak mulai jam 3 sampai jan 5 sore .

Devy sapaannya mengakui semangat anak-anak dalam membaca dan bermain sangat besar sekali sehingga para relawan pun semangat untuk membantu mengajar serta mendidik anak-anak.

“Kami mengajar mereka mengenal huruf,angka serta membaca dan bermain bersama. Jaman sekarang anak-anak lebih suka bermain game di telepon genggam daripada membaca sehingga dengan berliterasi bisa mengalihkan perhatian mereka,” ucapnya.

Devy menambahkan, para relawan berasal dari pelajar SMA, mahasiswa  maupun guru yang ada di desa ini dan semuanya bersemangat mendidik anak-anak TK dan SD di desa ini.

Dirinya berharap adanya pondok baca ini bisa membuat anak-anak lebih giat berliterasi dan harus dimulai sejak usia dini.

Lihat juga...