PPKM, Pemasaran Produk UMKM Bantar Agung Turun 60 Persen

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAJALENGKA – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat Koperasi Bantar Agung, Kecamatan Sidangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tidak bisa maksimal dalam memasarkan produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang selama ini mempercayakan pemasaran kepada pihak koperasi.

“Turun drastis untuk pemasaran produk-produk UMKM, sampai 60 persen, sehingga kita juga meminta kepada para pelaku UMKM yang bekerjasama dengan kita untuk mengurangi produksi, supaya tidak sampai merugi,” kata Ketua Koperasi Bantar Agung yang berada di bawah manajemen Yayasan Damandiri, Heryanto, Sabtu (11/9/2021).

Penurunan omzet penjualan produk UMKM ini, lanjutnya, karena hanya mengandalkan pemasaran di pasar tradisional saja. Sementara untuk pasar tradisional di desa tersebut, pengunjungnya lebih didominasi warga lokal. Selain itu, jam operasional pasar tradisional juga dibatasi.

Menurut Aher, sapaan Heryanto, sebelumnya untuk pemasaran produk UMKM lebih mengandalkan pada kunjungan wisatawan yang datang ke Bantar Agung. Produk-produk tersebut dipajang pada gerai kedai kopi yang berlokasi di kawasan wisata.

“Saat pandemi Covid-19, kedai harus tutup karena dilarang buka dengan alasan berpotensi menimbulkan kerumunan, sehingga produk UMKM tidak bisa kita pajang lagi di gerai. Waktu itu penjualan mulai menurun sekitar 40 persen dan saat PPKM jam operasional pasar tradisional juga dibatasi, penjualan turun sampai pada 60 persen itu,” terangnya.

Guna mendongkrak penjualan produk UMKM, selain ke pasar tradisional, pihak koperasi juga berinovasi dengan memperluas pemasaran ke rumah makan-rumah makan. Namun, tidak hanya pemasaran saja yang terhambat, beberapa pelaku UMKM juga mengalami kesulitan dalam suplai bahan baku.

“Jadi posisi UMKM sekarang jalan di tempat, dikembangkan pemasarannya juga ada hambatan pada suplai bahan baku,” kata Aher.

Saat ini, pemasaran produk UMKM yang masih jalan hanya keripik pisang dan emping. Sedangkan untuk kopi lokal sudah terhenti total selama tiga bulan terakhir.

Salah satu warga Desa Bantar Agung yang mempunyai usaha kuliner, Amirah mengatakan, penjualan produk keripik pisang miliknya menurun drastis.

Biasanya ia memproduksi hingga 20 kilogram per minggu dan selalu habis di pasaran melalui koperasi. Namun saat ini, karena pasar sepi, ia hanya membuat 2-3 kilogram per minggu.

“Menurunnya penjualan ini tentu sangat berdampak pada penghasilan, dalam satu minggu hanya bisa laku 2-3 kilogram keripik pisang saja, sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup,” tuturnya.

Aminah berharap, kondisi pandemi segera membaik dan tempat-tempat wisata bisa kembali dibuka sehingga usaha kuliner warga desa bisa kembali berkembang.

Lihat juga...