PTM Dimulai, ini Sektor Kesehatan yang Perlu Diperhatikan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Semarang dan sejumlah wilayah lain di Jateng, meski disambut gembira, namun tetap meninggalkan rasa kekhawatiran. Khususnya bagi orang tua siswa, terkait penerapan protokol kesehatan dalam upaya pencegahan covid-19.

“Ya, ada rasa kekhawatiran, meski saya sudah memberikan izin kepada anak saya, untuk mengikuti PTM. Untuk mengantisipasi, anak saya sudah saya vaksin influenza, karena dari segi umur, belum bisa mendapat suntikan vaksin covid-19,. Sekarang ini masih kelas 6 SD, usia 11 tahun,” papar Alin Anindita, warga Tembalang Semarang, saat ditemui, Jumat (3/9/2021).

Tidak hanya itu, dirinya juga membekali sang anak dengan masker berlapis, pelindung wajah transparan atau face shield, hingga hand sanitizer.

“Anak saya juga juga tiap hari saya edukasi, terkait penerapan prokes. Ini menjadi upaya pencegahan, yang bisa saya lakukan,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Restu Indah. Dua anaknya yang saat ini duduk di bangku kelas 7 dan 8 di SMPN 5 Semarang, juga kembali mengikuti PTM terbatas yang sudah digelar oleh satuan pendidikan tersebut.

“Saya juga mengizinkan, karena ini juga untuk kebaikan anak saya, agar dapat bisa menerima pembelajaran dengan lebih baik dibandingkan secara online. Meski ada kekhawatiran, terkait pandemi covid-19, namun dengan penerapan prokes yang disiplin. Mudah-mudahan bisa terlindungi,” ucapnya.

Ketua IDI Jateng Dr Djoko Handojo Sp.B, Sp.B(K) Onk, FICS, saat dihubungi di Semarang, Jumat (3/9/2021). Foto Arixc Ardana

Namun terlepas dari izin yang diberikan orang tua kepada anak atau siswa untuk mengikuti PTM terbatas, bagaimana sebenarnya prosedur yang benar, agar PTM tidak menjadi klaster baru dalam penyebaran covid-19?.

“Kami dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jateng, setuju saja dengan adanya PTM terbatas, namun ada beberapa catatan yang harus diperhatikan terkait penerapan prokes, dalam upaya pencegahan Covid-19,” terang Ketua IDI Jateng Dr Djoko Handojo Sp.B, Sp.B(K) Onk, FICS, saat dihubungi di Semarang, Jumat (3/9/2021).

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan dengan menerapkan prokes secara baik, namun tidak sekedar memakai masker, jaga jarak atau cuci tangan. “Namun harus diperhatikan juga terkait lokasi atau kelas yang digunakan, yakni harus memiliki sirkulasi udara yang baik, udara dapat keluar masuk dengan baik. Lalu durasi berkumpul di dalam kelas, ini juga harus menjadi perhatian,” terangnya.

Langkah lain yang harus dilakukan yakni dengan mengikuti vaksinasi Covid-19 bagi siswa. Meski saat ini, juga masih ada kendala karena mereka yang divaksin baru usia 12-17 tahun.

“Saat ini, siswa usia 11 tahun kebawah, memang belum diizinkan untuk mengikuti vaksin covid-19, sebab memang belum ada izin dari BPOM terkait penggunaan vaksin untuk usia tersebut, selain itu penelitiannya juga masih dilakukan,” ucapnya.

Meski demikian, dirinya berharap masyarakat tidak perlu khawatir, terkait vaksinasi covid-19, sebab terus dilakukan kebaruan.

“Kita ketahui dulu ibu hamil, tidak boleh ikut vaksin, demikian juga dengan orang berkomorbid tertentu. Namun sekarang ini, mereka sudah bisa divaksin. Nantinya kita harapkan hal sama, juga terjadi bagi kelompok umur 11 tahun kebawah ini, bisa segera divaksin,” tandasnya.

Meski demikian pihaknya tetap mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tua, untuk mengawasi putera putri mereka, terkait penerapan prokes selama PTM.

Lihat juga...