Putaran Roda Gerobak, Tumpuan Harapan Pelaku Usaha Kecil di Bandar Lampung

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Putaran roda gerobak dengan beban 12 jeriken berisi air ukuran lima liter terasa berat. Total ada sekitar 60 liter didorong oleh Budiman, salah satu penyedia jasa pengiriman air bersih untuk sejumlah pelanggan. Gerobek dari kerangka besi, beralaskan papan dan roda sepeda jadi tumpuan mencari penghasilan.

Mengisi air bersih dari lokasi pemompaan di Kelurahan Pesawahan, Teluk Betung Selatan, ia berusaha memenuhi pesanan yang berasal dari warga yang tidak memiliki sumur hingga pelanggan perusahaan daerah air minum (PDAM) yang tidak lancar.

Harga per jeriken bagi konsumen langsung yang datang ke sumber mata air mencapai Rp2.500. Namun dengan adanya jasa pengiriman menyesuaikan lokasi pelanggan per jeriken bisa dijual Rp5.000 bahkan lebih.

“Saat musim hujan datang air bersih juga masih diperlukan pelanggan, terutama warga yang tinggal di pesisir pantai untuk kebutuhan mandi, mencuci dan toilet karena sebagian memilih air dari galon untuk minum,” terang Budiman saat ditemui Cendana News, Selasa (7/9/2021).

Budiman menyebut meski mengandalkan gerobak ia masih mendapat puluhan ribu per hari. Pesanan setiap pelanggan sebutnya mulai dari dua hingga empat jeriken. Bermodalkan gerobak dorong tenaga manusia, ia bisa mendapat puluhan pelanggan per hari.

Air bersih sebutnya dibeli dari koperasi veteran yang dikelola oleh ketua RT setempat. Setiap air bersih selesai diantar ia menyetorkan uang sebagai pengganti biaya perawatan mesin.

Selain dirinya setidaknya ada puluhan penyedia jasa air bersih. Sebagian air bersih dikirim ke kampung nelayan yang berada di dekat pesisir Teluk Lampung.

“Terkadang roda gerobak kempes bahkan pecah sehingga perlu cadangan ban, pompa yang selalu dibawa,” ulasnya.

Mengandalkan motor roda tiga, Andono lebih mudah mengirim air bersih. Ia memakai motor roda tiga yang dibeli secara mengangsur dari menyisihkan sebagian hasil menjual air. Sebanyak enam belas jeriken bisa dibawa olehnya menyesuaikan pesanan.

“Saya telah menghitung pengeluaran bahan bakar dengan menyisihkan penjualan air bersih untuk biaya operasional,” ulasnya.

Selain penyedia air bersih, tumpuan pada roda gerobak juga dilakukan Aminudin. Ia mengaku menjadi pengepul sampah di permukiman. Saat sampah dari permukiman bersih ia tetap bisa berkeliling mencari barang bekas bernilai jual.

Memanfaatkan gerobak roda dua sebut Aminudin jadi salah satu sumber mendapat penghasilan. Selain upah bulanan dari uang kebersihan, ia juga bisa menjual barang bekas.

Selama masa pandemi, kala berkeliling ia juga mendapat donasi. Sejumlah donatur kerap memberi beras, sayuran bahkan uang.

“Tujuan utama gerobak untuk mengangkut sampah yang dibayar dari iuran warga, usaha sampingan dengan mencari barang bekas bernilai jual,” ulasnya.

Jaja Saepuloh, pedagang es kacang merah di Kelurahan Gedong Air, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung memilih memakai gerobak untuk usahanya, Selasa (7/9/2021). Foto: Henk Widi

Bertumpu pada dua roda juga jadi harapan Jaja Saepuloh. Pedagang es krim kacang merah di Gedong Air, Tanjung Karang Barat itu mengandalkan gerobak. Kala masih kuat ia mengaku berkeliling ke sejumlah sekolah. Kini ia hanya mengandalkan gerobak untuk menjual es krim di tepi Jalan Imam Bonjol.

Telah memiliki pelanggan tetap membuat ia tetap mendapatkan penghasilan ratusan ribu perhari meski berjualan memakai gerobak.

Lihat juga...