Relawan Dorong Pemkab Bekasi Minta Kompensasi Pencemaran Sungai ke Pemkot

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Masyarakat yang mengatasnamakan diri Aliansi Kali Jambe bersama ribuan relawan dan komunitas peduli lingkungan, menuntut pertanggungjawaban atas pencemaran lingkungan dan perbaikan Kalijambe, yang melintasi wilayah Mustikajaya dan Jatimulya Tambung Selatan.

Tuntutan tersebut akibat limbah air lindi yang berasal dari lokasi Tempat Pembuang Akhir (TPA) Bantargebang dan Sumur Batu yang menyebabkan air Kali Jambe menjadi hitam, dan mengeluarkan bau menyengat di sepanjang bantaran kali, hingga membuat pemukiman tidak nyaman selama puluhan tahun.

“Kami mendorong Kabupaten Bekasi menuntut kompensasi perbaikan terhadap pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh Kota Bekasi. Kompensasi itu dengan perbaikan Kalijambe, karena sudah tercemar air lindi selama 26 tahun akibat TPA Bantargebang dan Sumur Batu di Kota Bekasi,”ungkap Latip, salah satu  Koordinator Aliansi Peduli Kalijambe, kepada Cendana News, Minggu (26/9/2021).

Aliansi Peduli Kali Jambe bersama seribuan relawan dan komunitas pegiat lingkungan dari berbagai wilayah, hari ini berkumpul di Kali Jambe melakukan aksi pembersihan kali dan penanaman pohon di bantaran Kali hingga ke Desa Lambangsari, Tambun Selatan.

Abdul Latip, koordinator Aliansi Peduli Kalijambe, mendorong Pemkab Bekasi meminta pertanggungjawaban Pemkot Bekasi terkait pencemaran air Lindi dari TPA Bantar Gebang di Kali Jambe, Minggu (26/9/2021). –Foto: M Amin

Ribuan relawan dari berbagai komunitas lingkungan hidup tersebut juga mengangkat tumpukan sampah yang berada di krosing tol wilayah Jatimulya dengan cara manual. Aksi tersebut adalah bentuk dukungan agar Kalijambe terbebas dari sampah, pencemaran dan pendangkalan.

“Aksi hari ini menghasilkan petisi terkait Kalijambe, pertama stop pencemaran air lindi dari TPA Bantargebang dan Sumur Batu, ke dua normalisasi total Kali Jambe dari hulu sampai hilir, ke tiga Stop pembuangan sampah liar di Kali Jambe,” ungkap Latip.

Aliansi Masyarakat Peduli Kalijambe, lanjutnya, akan terus mengawal proses perbaikan kali karena selama ini telah tercemar selama puluhan tahun. Aksi ribuan relawan dan komunitas pencinta lingkungan hidup hari ini adalah titik balik untuk perbaikan Kali Jambe.

Menurutnya, setelah aksi sejuta koin dan marak diberitakan, ada sedikit perhatian dari pemerintah dengan melakukan normalisasi. Meski sampai sekarang baru mencapai sekira 2 kilometer. Mereka berharap, normalisasi bisa dilanjut sampai ke hulu.

“Alhamdulillah, hari ini koin yang terkumpul mencapai Rp9,597 juta dengan beratnya mencapai sekitar 9 kilogram. Rencananya hasil donasi peduli Kalijambe itu akan dibelikan jaring, dan kebutuhan lainnya untuk perbaikan Kalijambe,” tukas dia.

Ketua Harian KPA Ranting Kabupaten Bekasi, Ahmad Ajat, yang menurunkan tim ke lokasi Kalijambe, mendukung pemerintah Kabupaten Bekasi segera membicarakan persoalan konpensasi akibat pencemaran air lindi dampak dari TPA Bantargebang dan Sumur Batu di Pemkot Bekasi. ‘

Dia mengibaratkan, Pemkot Bekasi makan nangka, tapi getahnya dirasakan oleh warga di bantaran Kalijambe, seperti Jatimulya akibat air lindi dari TPA Bantargebang dan Sumur Batu. Pemkot Bekasi mendapat kompensasi tidak sedikit dari DKI Jakarta atas lahan TPA Bantar Gebang, yang dijadikan tempat sampah orang Jakarta itu.

“Pemkab Bekasi harus tegas, dalam hal ini menuntut Pemkot Bekasi bertanggungjawab atas pencemaran air lindi yang terjadi di Kalijambe akibat TPA Bantargebang dan Sumur Batu. Kondisi itu sudah terjadi puluhan tahun, tapi didiamkan begitu saja tidak ada upaya perbaikan oleh Pemkot Bekasi terkait tata kelola TPA,” tegasnya.

Lihat juga...