Rumah Konstruksi Bambu di Sikka Ramah Gempa

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Hampir sebagian besar rumah warga di berbagai wilayah kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama di desa-desa masih menggunakan bambu sebagai dinding maupun tiang karena bisa bertahan lama dan ramah gempa.

“Rumah bambu atau kayu memang lebih nyaman dan ramah terhadap gempa,” sebut Ketua Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung, saat dihubungi, Rabu (15/9/2021).

Win sapaannya menyebutkan, wilayah Flores dan NTT merupakan daerah yang sering terjadi gempa, sehingga penggunaan bambu dan kayu sebagai bahan bangunan lebih aman.

Ketua FPPB Sikka, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Sabtu (11/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menambahkan, bangunan dari kayu dan bambu memang lebih rentan hangus terbakar apabila terkena api, namun ancaman kebakaran jarang terjadi dibandingkan dengan gempa.

“Rumah kayu atau bambu lebih ramah terhadap gempa tapi sedikit lebih rawan terhadap api. Tapi kalau dilihat dari ancaman bencana yang sering terjadi, gempa ancaman bencananya lebih tinggi,” ungkapnya.

Mantan Direktur WALHI NTT ini menjelaskan, bambu pun bisa tahan lama apabila direndam terlebih dahulu menggunakan air garam atau dikubur di dalam tanah.

Win menyebutkan, tiap-tiap wilayah mempunyai kearifan lokal tersendiri dalam mengolah bambu agar tahan lama dan tidak dimakan rayap dan lapuk.

“Di Kabupaten Sikka masih banyak warga yang membangun rumah menggunakan bambu apalagi dindingnya. Di Kota Maumere pun kita masih menjumpai bangunan rumah atau dapur yang berdinding bambu,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Benediktus Herry Siswadi menyebutkan, warga belum dibiasakan untuk menanam bambu.

Herry menyebutkan, bambu biasanya tumbuh sendiri dan tidak dirawat namun selalu ditebang untuk dijual dengan cara membelahnya menjadi bambu belah atau halar.

“Bambu belah ini yang dijadikan dinding rumah ataupun alas kasur maupun balai-balai (tedang dalam bahasa Sikka). Makanya kami sedang melakukan budidaya bambu agar tetap terjaga kelestariannya apabila terus ditanam dan dirawat,” ucapnya.

Lihat juga...