Film ‘Samudra Loka’ Tinggalkan Kesan Mendalam bagi Pecinta Laut

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Film Samudra Loka yang dibesut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ternyata tak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi sang sutradara. Tapi juga ditanggapi positif oleh para pecinta film dan laut.

Sutradara film Samudra Loka, Alif Steve, menceritakan pertama kali mendapatkan penugasan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk membuat film ini, ia langsung melakukan riset.

Sutradara Film Samudra Loka, Alif Steve menyampaikan bahwa proses pembuatan Samudra Loka memberikan pelajaran baru bagi dirinya, dalam rangkaian Pekan Literasi Maritim: Resensi Samudra Loka, Minggu (19/9/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Terus terang, kaget banget melihat kondisi Bali. Kok begini banget ya kondisinya, saat melakukan riset pertama kali. Banyak sekali masyarakat yang terdampak,” kata Alif, dalam rangkaian Pekan Literasi Maritim: Resensi Samudra Loka, Minggu (19/7/2021).

Dari kegiatan Coral Reef Garden (CRG) yang ia amati, ia menciptakan beberapa karakter yang selanjutnya dimunculkan dalam film Samudra Loka.

“Pembuatan film ini, menjadi momen pertama saya diving dan melakukan pengambilan adegan di bawah air. Baru menyadari, ternyata menantang juga ya. Ini merupakan pengalaman baru untuk saya dan akhirnya yang saya lakukan adalah learning by doing saja. Beradaptasi dengan arus laut pada kedalaman 15-20 meter untuk mendapatkan blocking terbaik,” paparnya.

Ia menceritakan hampir semua aktor yang terlibat merupakan masyarakat Bali yang memiliki passion pada akting.

“Kalau saya bawa orang dari luar Bali, akan makan waktu lagi. Ya untuk datang ke Bali, ya untuk belajar aksennya. Malah berisiko kalau memgangkat masyarakat Bali tapi tidak berhasil mengangkat aksennya,” paparnya lebih lanjut.

Proses reading script, lanjutnya, hanya memakan waktu seminggu. Waktu lebih banyak terambil untuk persiapan setting scene.

“Harapan saya, dengan karya ini bisa memberikan awareness pada generasi muda dan masyarakat Indonesia tentang maritim Indonesia yang sangat luas dan menjanjikan ragam potensi,” kata sutradara muda yang juga menunjukkan kepiawaiannya dalam film Mangi-mangi  yang juga berkolaborasi dengan Kemenko Maritim dan Investasi.

Ia menyebutkan bahwa materi yang ingin disampaikan melalui film Samudra Loka ini adalah bagaimana kondisi maritim Indonesia dan ragam sumber dayanya. Bagaimana maritim bisa menjadi titik balik kehidupan masyarakat yang menurun akibat paparan pandemi.

Samudra Loka ini ada 9 episode dan bisa disaksikan di Maxstream, Neptune TV dan You Tube Kementerian Kelautan dan Perikanan,” tandasnya.

Seorang disabilitas netra dari LIRA Disability Care, Abdul Majid, menyatakan sangat mengapresiasi upaya KKP dalam menyajikan laut dalam bentuk dokumentasi audio.

“Sejak dua tahun lalu, saya yang dulu terbiasa menikmati laut secara langsung, hanya bisa menikmati secara deskripsi audio karena kondisi netra saya. Sehingga saya sangat mendukung kegiatan yang mengangkat lautan Indonesia dengan sistem audio,” kata Majid dalam kesempatan yang sama.

Ia menyatakan dengan adanya audio tentang laut akan bisa memberikan informasi tentang laut pada penyandang disabilitas.

“Saya mengimbau agar ada fasilitas khusus yang dapat membantu para penyandang disabilitas seperti saya. Agar kami kaum penyandang disabilitas juga menginginkan hal yang sama. Baik dari sudut edukasi maupun mengobati kerinduan kami pada laut itu,” ungkapnya.

Contohnya sebagai fasilitas untuk disabilitas netra, bisa disediakan narator untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran laut itu.

“Jadi kami pun bisa turut menikmati. Bahkan, akan mendorong ekspresi kecintaan laut dari perspektif yang berbeda,” ungkapnya lebih lanjut.

Majid menyebutkan, inklusivitas dalam film merupakan cara edukasi yang memiliki kekuatan dalam menciptakan masyarakat tanpa diskriminasi.

“Tujuannya tentu menciptakan suatu kemaritiman yang inklusif. Yang ramah disabilitas. Harus dilihat potensinya dari para penyandang disabilitas,” pungkasnya.

Lihat juga...