Satgas Covid-19 Tanggapi Isu Rumah Sakit di Sikka ‘Mengcovidkan’ Pasien

MAUMERE — Dampak dari maraknya isu yang menyebar di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait pasien yang berobat ke rumah sakit dicovidkan atau dikatakan positif Covid-19, membuat masyarakat tidak berobat ke rumah sakit.

“Memang banyak isu yang mengatakan rumah sakit mengcovidkan pasien. Ini yang membuat banyak orang tidak berobat ke rumah sakit termasuk RS TC Hillers Maumere,” kata dr. Clara Yosefine Francis, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Covid-19 Kabupaten Sikka, Jumat (10/9/2021).

Saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan di Maumere, Clara mengakui bahwa isu itu memang beredar luas di masyarakat dan dampaknya membuat warga yang sakit pun takut ke rumah sakit.

Ia menegaskan, tuduhan rumah sakit mengcovidkan pasien itu tidak benar sebab tidak ada untung apapun baik bagi tenaga kesehatan maupun pihak rumah sakit.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, dr. Clara Yosefine Francis, MPH saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan di Maumere, Jumat (10/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Untuk menangani pasien Covid-19 butuh biaya lebih mahal karena biaya Alat Pelindung Diri (APD)-nya mahal sekali. Beda jauh dengan pasien normal yang biayanya jauh lebih kecil,” ungkapnya.

Clara menjelaskan, biaya APD-nya besar sekali sebab sekali memeriksa pasien setelah keluar ruangan pakaiannya tidak bisa digunakan lagi.

Lanjutnya, kalau pasien tidak positif Covid-19 biayanya keci sebab paling hanya memakai masker dan pelindung wajah saja.

“Tidak ada untungnya sama sekali buat Nakes maupun rumah sakit bila mencovidkan pasien karena sudah pasti biaya merawat pasien Covid-19 pasti lebih mahal,” tuturnya.

Terkait insentif Nakes yang dikatakan besar, Clara menyebutkan, kalau insentif selama masa pandemi ini pemerintah sudah menyiapkannya.

Ia menyebutkan, insentif tersebut untuk memberi stimulus, memberi semangat lebih kepada Nakes yang paling rentan tertular dan mengalami risiko yang besar saat menangani pasien Covid-19.

“Bukan kalau tidak diberikan insentif Nakes tidak semangat bekerja. Nakes tetap bekerja melayani pasien sesuai sumpah profesi mereka baik ada insentif maupun tidak,” ungkapnya.

Clara menjelaskan, pemerintah mempertimbangkan dengan segala risikonya karena Nakes lebih sering dan lebih rentan tertular Covid-19.

Lanjutnya, Nakes tidak tahu pasien yang datang berobat positif atau negatif Covid-19 sekalipun telah melakukan pemeriksaan rapid antigen.

“Pasien yang telah diperiksa rapid antigen  terlebih dahulu belum tentu pasiennya tidak tidak positif. Bisa saja selama menjalani perawatan pasien tersebut tertular dari orang lain atau masih belum ada gejala,” ucapnya.

Sementara itu, saat melakukan aksi di gedung DPRD Sikka, GMNI Cabang Sikka mempertanyakan mekanisme pemerikasaan pasien di rumah sakit, sebab masyarakat mengeluhkan adanya dugaan rumah sakit mencovidkan pasien.

Ketua GMNI Sikka, Alvianus Lalong Ganggur mengatakan, pihaknya meminta DPRD Sikka mendesak Satgas Covid-19 Sikka agar bertanggung jawab dan mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pelayanan dan penanganan pasien Covid-19 di Sikka.

“Apa yang dilakukan Satgas Covid-19 Sikka telah mengalami krisis kepercayaan, sehingga merugikan masyarakat secara psikologis, ekonomi dan aspek pendidikan,” ungkapnya.

Alvin sapaannya menambahkan, GMNI meminta DPRD Sikka untuk mendesak Bupati Sikka agar mencopot direktur RSUD TC Hillers Maumere dan dokter utama penanganan pasien Covid-19 di Sikka dari jabatannya.

Lihat juga...