Satu Bulan Berjualan, Pedagang Pakaian Pasar Beringharjo Masih Sepi Pengunjung

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Meski mulai beranjak ramai pengunjung, sejumlah pedagang pakaian dan kain di kawasan pasar tradisional Beringharjo Yogyakarta diketahui belum berani membuka kios maupun lapak mereka secara penuh.

Para pedagang diketahui masih membuka kios pada hari-hari tertentu, seperti akhir pekan, lantaran omset penjualan mereka belum meningkat signifikan seperti yang diharapkan.

“Memang kita sudah buka sekitar satu bulan lebih. Namun sampai saat ini penjualan masih sepi sekali. Karena itu, tidak semua pedagang membuka kios setiap hari,” ujar salah seorang pedagang pakaian pasar tradisional Beringharjo, Hesti, Selasa (14/09/2021).

Menjual berbagai macam produk pakaian dan kain, Hesti mengaku omset penjualan kios nya masih terbilang sangat minim. Dalam sehari ia terkadang hanya mampu menjual 1 buah pakaian/kain saja. Bahkan tak jarang, dalam satu hari penuh, tak satupun dagangannya laku terjual.

“Padahal kalau kios seperti ini, setiap buka, harus bayar tenaga penunggu dengan upah harian. Jadi kalau dagangan tidak laku ya rugi. Karena tetap harus keluar biaya operasional,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya, Eka. Sepinya pelanggan selama masa PPKM seperti sekarang ini membuat para pedagang tak jarang hanya duduk-duduk diam tanpa melayani pembeli seorangpun.

“Karena kita disini kan berjualan pakaian. Jadi hanya kebutuhan sekunder. Bukan kebutuhan pokok seperti sembako atau sayur-sayuran. Kalau pedagang sembako mungkin tidak pengaruh. Tapi pedagang pakaian seperti kita sangat terdampak sekali,” katanya.

Para pedagang yang berada di sisi barat pasar Beringharjo ini pun hanya bisa berharap agar pemerintah dapat membuat kebijakan yang dapat membantu mereka. Salah satunya adalah dengan menurunkan level PPKM dan mengijinkan warga luar daerah masuk ke Yogyakarta.

“Kalau PPKM masih terus dilanjutkan ya otomatis kita rakyat kecil pelan-pelan akan mati,” pungkasnya.

Lihat juga...