Seorang Anak yang tak Mau Jadi Benalu

CERPEN MUHAMMAD SYUKRY

Segala yang kutahu tentang benalu kupelajari dari Ibu. Kata Ibu, benalu adalah tumbuhan yang sepanjang hidupnya cuma menumpang kepada tumbuhan lain.

Tak hanya menumpang, ia juga mencuri makanan setiap tumbuhan yang ditumpanginya, hingga tumbuhan itu perlahan meranggas dan akhirnya mati kelaparan. Sudah seumur hidupnya menumpang, mencuri lagi. Itulah benalu.

“Apa kau mau jadi benalu?” tanya Ibu suatu kali.

Cepat-cepat aku menggeleng.

Karena tidak mau jadi benalu, aku juga tidak mau sekolah. Kata Ibu, anak-anak sekolah adalah contoh benalu. Lihatlah, mereka selalu membuat susah kedua orang tua mereka.

Sedari awal masuk sekolah, mereka sudah menuntut dibelikan macam-macam, mulai dari aneka alat tulis, berupa-rupa seragam, tas, sepatu, dan banyak lagi lainnya. Tak ketinggalan, setiap hendak berangkat sekolah, mereka menuntut pula uang jajan.

Aku senang tidak sekolah, sebab dengan begitu, aku tidak akan membuat Ibu susah. Tapi jangan keliru, meski tidak sekolah, aku tetap bisa membaca, menulis, dan berhitung—seperti anak-anak sekolah itu—sebab Ibu mengajariku di rumah.
***
Kebencianku kepada benalu, bermula sejak kudengar cerita Ibu dua tahun lalu. Malam itu, Ibu bercerita bahwa aku, anak laki-lakinya ini, sebenarnya terlahir sebagai benalu. Tentu aku tak langsung percaya. Mana mungkin, sangsiku.

“Mungkin saja,” jawab Ibu. “Kau membuat ibu kesakitan parah saat melahirkanmu … ”

“Terus?” buruku.

“Itu tandanya kau benalu.”

Ibu lantas bercerita bahwa sejak kelahiranku, hidupnya berubah suram. Ia tak bisa lagi merasakan tidur nyenyak seperti yang ia rasakan di waktu lalu. Uangnya juga selalu habis untuk biaya mengurusku. Katanya, itu semua pertanda bahwa aku benalu.

“Tapi, bagaimana bisa aku jadi benalu, Bu?” tanyaku heran.

“Itu karena ayahmu juga benalu,” jawab Ibu.

Aku tidak pernah mengenal Ayah. Bagaimana rupanya, berapa tingginya, aku tidak tahu. Yang kutahu, sebelum aku lahir, ia sudah pergi dan tak pernah kembali.

“Itu buktinya ayahmu benalu,” terang Ibu. “Dia pergi dengan membawa semua uang tabungan ibu.”

Sejak saat itu aku benci Ayah. Aku benci menjadi anak seorang benalu. Sungguh aku benci. Malam itu, kukatakan kepada Ibu bahwa aku siap melakukan apa saja asalkan terbebas dari benalu.

“Satu-satunya cara,” kata Ibu, “kau harus bekerja.”

Seminggu setelah Ibu berkata begitu, aku mulai bekerja. Pekerjaan itu adalah mengemis. Ibu yang memilihkannya untukku. Katanya, hanya itu pekerjaan yang saat itu cocok untukku.

Tentu saja karena mengemis hanya perlu menadahkan tangan, dan untuk melakukannya, aku hanya perlu pergi ke lampu merah di perempatan dekat pasar, yang jaraknya hanya sekitar lima ratusan meter dari kontrakan.

Sebenarnya waktu itu Ibu masih belum mau melepasku, sebab, katanya, aku yang saat itu baru berusia tujuh tahun masih terlalu kecil untuk bekerja.

Namun, karena terus-menerus kudesak, ia mengalah juga. Setahun mengemis di lampu merah, atas izin Ibu, aku mengemis pula di taman kota.

Sejujurnya, kalau disuruh memilih, aku lebih suka mengemis di taman kota. Lebih sejuk daripada di lampu merah.

Lihat juga...