Siapkan Guru Profesional, Prof. Endang Kembangkan Empat Kompetensi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan enam profesor baru sekaligus. Salah satunya Prof. Dr. Endang Purwaningsih, M.Si. yang dikukuhkan sebagai guru besar pendidikan Fisika Fakultas MIPA UM.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Endang mengatakan bahwa seorang guru profesional dituntut untuk memiliki empat kompetensi sesuai dengan aturan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, yakni kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian.

Sayangnya sejauh ini pengembangan keempat kompetensi tersebut pada level calon guru masih dirasa sulit sehingga perlu dioperasionalisasi berdasarkan landasan teoritik.

“Ada tiga landasan teoritik yang bisa dijadikan landasan dalam mengembangkan empat kompetensi guru, yaitu Pedagogical Content Knowledge (PCK), Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dan identity theory,” jelasnya, di Graha Cakrawala UM, Kamis (23/9/2021).

Prof. Dr. Endang Purwaningsih, M.Si membaca orasi pengukuhan di Graha Cakrawala UM, Kamis (23/9/2021). Foto screnshoot : Agus Nurchaliq

Menurutnya, seorang guru fisika tidak cukup hanya memahami konten fisika atau cara mengajarnya saja. Tetapi minimal seorang guru harus mempunyai pengetahuan yang dapat menjembatani antara pengetahuan fisika dan pengetahuan pedagogi, itu yang dinamakan PCK.

Selain itu, seiring dengan perkembangan zaman, seorang guru juga dituntut untuk memiliki pengetahuan dalam mengintegrasikan antara teknologi, konten dan pedagogi.

Karenanya, melihat kondisi tersebut, Prof. Dr. Endang Purwaningsih, M.Si., sejak tahun 2015 mulai mengembangkan model pembelajaran Concept Mapping Content Representation-Lesson Study.

Sebuah model pembelajaran yang dikembangkan untuk mata kuliah Kuliah Praktik Lapangan (KPL) guna meningkatkan PCK calon guru, khususnya calon guru yang memiliki pemahaman konten yang masih kurang.

“Sebenarnya sudah ada penelitian yang meneliti tentang Content Representation-Lesson Study (CoMCoRe-LS) , tetapi untuk mahasiswa yang tidak punya masalah tentang konten. Sedangkan mahasiswa kami waktu itu di tahun 2015, ketika dites untuk kemampuan kontennya ternyata masih kurang sehingga saya menambahkan konsep mapping ini,” jelasnya.

Menurut Prof. Endang, dengan konsep mapping tersebut, mahasiswa yang melaksanakan KPL dapat menuliskan konsep-konsep apa saja dari satu materi yang penting. Dari konsep-konsep yang ada itu kemudian dipilih, karena tidak mungkin semua akan diajarkan sebab waktunya terbatas.

“Jadi mahasiswa itu harus punya kemampuan memilih dan menentukan konsep penting yang harus diajarkan pada siswa dengan waktu yang disediakan. Sehingga dengan konsep dasar itu, siswa sudah bisa mengembangkan sendiri,” urainya.

Tidak sampai di situ, dikatakan Prof. Endang, selain pengetahuan, seorang guru perlu memiliki identitas sebagai guru. Identitas yang dapat membedakan satu guru dengan guru yang lain.

“Ini yang sekarang mulai saya teliti dan mengaitkan dengan penelitian yang sudah ada. Saya mulai mengeksplorasi bagaimana identitas yang mahasiswa miliki dengan melihat pengalaman mereka selama sekolah di SD, SMP, SMA, seperti apa. Apakah mereka mempunyai guru idola, atau yang lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd. mengaku bersyukur atas pengukuhan enam profesor baru UM.

Menurutnya dengan pengukuhan tersebut diharapkan mampu mendorong UM menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Ada tiga tugas perguruan tinggi yaitu meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Menguatkan mutu dosen dan tenaga pendidik. Serta meningkatkan akses pendidikan,” tuturnya.

Disebutkan, Prof. Dr. Endang Purwaningsih, M.Si. dikukuhkan bersama lima guru besar UM lainnya yaitu Prof. Dr. Lia Yuliati M. Pd, Prof. Dr. Abdur Rahman As’ari M. Pd, M. A., Prof. Dr. Parno, M.Si., Prof. Dr. Achmad Rasyad M. Pd., dan Prof. Dr. Yusuf Hanafi, M. Fil. l.

Lihat juga...