SMK Yohanes XXIII Maumere Sabet Juara Pertama di Empat Kategori Lomba

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — SMK Yohanes XXIII Maumere, Kabupaten Sikka, mengikuti sembilan bidang lomba dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) antar SMK se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam ajang tersebut, meraih 4 juara pertama dan 4 juara kedua, sementara satu bidang lomba lainnya tidak meraih juara.

“Kami mewakili Provinsi NTT di tingkat nasional dalam lomba FLS2N karena meraih juara pertama di 4 kategori lomba,” kata Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Marselus Moa Ito saat ditemui di sekolahnya, Kamis (9/9/2021).

Marselus menyebutkan, 4 bidang lomba tersebut yakni lomba film pendek fiksi,film pendek dokumenter,cipta lagu dan musik tradisi dan hasilnya telah diumumkan tanggal 30 Agustus 2021 lalu.

Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Marselus Moa Ito saat ditemui di sekolah, Kamis (9/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Wakil sekolahnya kata dia, hanya meraih penghargaan vokalis terbaik musik tradisional dalam lomba tingkat nasional dan dari 4 kategori tidak ada yang meraih juara pertama.

“Kami mengikuti lomba karena sebagai lembaga pendidikan tugas kita selain memberikan ilmu pengetahuan, harus juga menyalurkan minat bakat yang dimiliki oleh siswa,” terangnya.

Untuk itu kata Marselus, sekolahnya selalu mencari tahu event-event yang diadakan agar bisa mengirimkan anak didik untuk mengikuti lomba.

Dia menyebutkan, apalagi kegiatan ekstra kurikuler di sekolah aktif sekali terutama di bidang kesenian dan olahraga. Lanjutnya,sekolahnya melakukan seleksi minat dan bakat terhadap siswa saat tahun ajaran baru.

“Setelah didata maka dilakukan pendampingan.Kami mencari guru pendampingnya dan bila tidak ada guru pendamping di sekolah kami maka mencari guru pendamping atau pengajar dari luar sekolah,” ungkapnya.

Matrselus mencontohkan untuk seni lukis pihaknya mencari pelukis dari luar sekolah untuk mendampingi para siswa yang akan mengikuti lomba. Marselus menegaskan, kalau perlombaan di tingkat kabupaten bahkan di provinsi perwakilan dari sekolahnya selalu meraih juara pertama dan mewakili Provinsi NTT.

“Untuk menjual sekolah maka kami harus rajin mengikuti event atau lomba. Kami mempergunakan dana BOS untuk membiayai honor pendamping dari luar sekolah,” terangnya.

Guru pendamping musik tradisional SMK Yohanes XXIII Maumere Robertus Kordibus Kedo menyebutkan, untuk musik tradisional, sistem lomba saat ini harus membuat mixing audio lalu membuat video klip dengan menggunakan sulih suara (dubing).

Robertus menjelaskan, komputer di sekolah mereka spesifikasinya masih kurang sehingga pihaknya meminta bantuan dari teman-teman di studio musik yang ada di Kota Maumere.

“Harus sering latihan dari hari ke hari sehingga saat ada lomba sudah siap dan kemampuan pun sudah terasa,” ucapnya.

Robertus menyebutkan, saat lomba di tingkat provinsi dirinya melihat penjurian terkait juara lomba kategori gitar solo masih kurang pas. Ia membandingkan siswanya lebih berkualitas dibandingkan dengan peserta yang meraih juara satu tingkat provinsi sehingga dirinya pun mengaku bingung dengan sistem penjurian.

Lihat juga...