Sudin KPKP Jakpus Optimalkan 50 Lahan Pertanian Kota

JAKARTA — Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan, Pertanian (KPKP) Jakarta Pusat mengoptimalkan 50 lokasi lahan pertanian kota (urban farming) di delapan kecamatan untuk ketahanan pangan rumah tangga dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kita optimalisasi dari lahan yang ada, namun intinya berkelanjutan, baik di gang hijau, RPTRA, lahan fasilitas umum milik lemda hingga sekitar sekolahan yang bisa dimanfaatkan,” kata Kasudin KPKP Jakarta Pusat Penty Yunesi Pudyasturi saat dihubungi di Jakarta, Rabu (8/9/2021).

Penty menjelaskan, warga dan Tim Penggerak PKK yang mengelola pertanian kota tersebut umumnya tidak lagi mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil panen.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Tim Penggerak PKK mengeluhkan sulitnya pembeli yang menyerap hasil panen mereka. Kini warga sekitar lokasi pertanian hingga pemerintah daerah setempat berperan menjadi pembeli panen.

Saat panen serentak pertengahan Agustus lalu, pertanian kota di Jakarta Pusat mampu menghasilkan 482,75 kilogram sayur dan tanaman umbi. Hasil dari penjualan tersebut digunakan untuk membeli benih tanaman dan perawatan lahan.

Namun demikian, Pemkot Jakarta Pusat juga tetap memberikan bantuan benih sebagai bantuan awal agar masyarakat mandiri memproduksi benih tanaman sendiri.

“Intinya kita berdayakan masyarakat. Kalau benih kita akan kasih tapi mereka harus berkelanjutan,” kata Penty.

“Misalnya kemarin tanaman sayuran seperti terong, kita kasih benihnya, tetapi besoknya kalau panen, harus bisa tanam benih sendiri,” katanya.

​​​​​​Salah satu pertanian kota di Jakarta Pusat, yakni berada di Kampung Eduwisata Bhinneka Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Area lahan kosong yang sebelumnya merupakan tempat pembuangan sampah umum kini menjadi lahan pertanian produktif dan peternakan lele yang dapat memenuhi kebutuhan pangan warga sekitar.

“Kita di sini kemarin panen singkong dan lele sewaktu panen serentak. Sebelumnya kami juga sudah panen mangga,” kata Ketua Kelompok Pengelola Kampung Eduwisata Bhinneka Kebon Kosong Joko Sarjono.

Hasil panen langsung diborong warga karena harganya tidak mahal. “Ksrena tidak ada biaya angkut, tinggal ambil saja di sini,” katanya. (Ant)

Lihat juga...