Tak Hanya Tubuh, Paru-paru Pun Butuh Olahraga Rutin

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Olahraga rutin, terutama latihan pernapasan sangat penting dalam menjaga kesehatan tubuh seseorang. Bahkan bagi para individu yang sedang terpapar COVID 19, pun perlu melakukan latihan pernapasan, agar paru-paru bisa bekerja secara optimal.

Medikal Advisor PT. Otsuka, dr. Yoesrianto Tahir, MKM menyatakan olahraga merupakan salah satu cara pencegahan terpapar penyakit, termasuk COVID 19.

“Olahraga bukan hanya mencegah. Tapi dapat juga membantu proses penyembuhan COVID 19. Selama yang dilakukan memang sesuai dengan kondisi masing-masing individu,” kata dr. Yoesri dalam diskusi kesehatan, Jumat (17/9/2021).

Ia menyebutkan olahraga bukan hanya khusus seperti pergi ke gym atau lari dalam jangka waktu tertentu.

“Kalau memang tidak memiliki waktu, seperti para tenaga kesehatan yang waktunya mayoritas digunakan untuk berjaga, bisa dilakukan stretching atau perenggangan ringan selama 30 menit, setelah aktivitas harian. Jadi harus disempatkan,” ucapnya.

Dengan kondisi pandemi yang memberlakukan pembatasan, maka perlu diadaptasi juga pola olahraganya.

“Kalau dulu, biasa main basket seminggu dua kali, ya sekarang disesuaikan saja. Apakah senam irama sendiri di rumah atau dengan anggota keluarga. Tak perlu yang berat, yang penting rutin,” ucapnya lagi.

Bagi para penderita COVID 19, Konsultan Fisik dan Rehabilitasi Medik, RSUP Persahabatan Jakarta, dr. Siti Chandra Widjanantie, SpKFR(K) menyampaikan para penderita yang sedang hingga berat, tetap perlu melakukan latihan pernapasan untuk melatih paru-parunya.

“Untuk yang kritis, kita akan membantu untuk mengambil posisi tengkurap sebagai melatih paru-paru. Kenapa harus tengkurap? Karena semua isi dada diletakkan di bawah. Sehingga lebih ringan bagi paru-paru untuk mengembang,” kata dr. Chandra.

Pada orang dewasa, yang ototnya sudah mulai memendek, maka perlu dibantu dengan memposisikan bantal.

“Bantal ini posisinya untuk menyangga pinggang, agar tidak tertarik. Kalau di rumah sakit, biasanya akan dilihat dulu postur pasien untuk menentukan posisi bantal agar pasien benar-benar nyaman saat tengkurap,” urainya.

Kenyamanan ini, lanjutnya, sangat penting untuk memastikan pengembangan paru-paru berlangsung secara sempurna.

“Paling tidak, butuh dua jam dalam posisi ini agar paru-paru dapat berkembang secara sempurna,” urainya lagi.

Kegiatan daring yang dilakukan selama pandemi, menurut dr. Chandra juga berpotensi mengganggu kesehatan tubuh manusia.

“Karena dengan daring, orang akan duduk dalam waktu yang cukup lama. Bahkan ada yang bisa duduk saja selama 6 jam. Posisi ini akan menyebabkan pemendekan otot atau mengubah postur kepala dan menyebabkan otot leher lebih cepat capek,” katanya.

Untuk melihatnya dan memperbaikinya, yang perlu dilakukan hanya menyandarkan tubuh ke tembok.

“Bahu dan tumit menempel ke dinding, lalu lihat apakah kepalanya bisa menempel atau tidak. Kalau tidak menempel, artinya memang ada masalah pada postur tubuh, kepala dan lehernya. Atau kalau orang tersebut merasa lelah dalam proses menempel itu artinya memang ada masalah,” paparnya.

Intervensi pada pernapasan dan postur tubuh ini, lanjutnya, sudah harus dilakukan sejak pasien masuk ke IGD.

“Kalau di RSUP Persahabatan, kita bantu sejak IGD. Kita bantu untuk melatih pernapasannya, agar mengurangi beban dari kondisi paru-paru yang sedang terpapar penyakit,” pungkasnya.

Lihat juga...