Tiga Desa di Sikka Kembangkan Budi Daya Bambu Cegah Kepunahan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Yayasan Bambu Lestari menggandeng Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengembangkan budi daya tanaman bambu di tiga desa yang memiliki potensi tanaman bambu.

Kepala UPT KPH Kabupaten Sikka, Benediktus Herry Siswadi, menyebutkan, budi daya tanaman bambu dilakukan untuk kepentingan penghijauan dan menambah ketersediaan tanaman bambu di Kabupaten Sikka, yang selama ini tidak dilakukan budi daya.

Dia mengatakan,tanaman bambu hanya ditebang saja untuk dipergunakan membuat dinding, tiang serta atap rumah. Bambu juga dieprgunakan untuk membuat aneka kerajinan seperti kursi, meja serta perabotan rumah tangga lainnya

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, NTT, Benediktus Herry Siswadi, saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Rabu (15/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Selama ini masyarakat hanya menebang bambu saja tanpa melakukan penanaman kembali. Makanya, dilakukan penanaman kembali agar bambu bisa banyak kembali,” ungkap Benediktus Herry Siswadi, saat ditemui di kantornya di Maumere, Rabu (15/9/2021).

Herry menambahkan, tanaman bambu juga dapat ditanam untuk penghijauan di sekitar mata air, agar debit air di mata air bisa normal, bahkan bertambah besar.

Bila bambu tidak ditanam kembali, maka suatu saat bambu akan berkurang dan hilang. “Ini merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari dan Pemerintah Provinsi NTT. Dananya berasal dari APBD Provinsi NTT,” paparnya.

Herry menuturkan, jenis bambu yang ditanam, yakni bambu Aur (Bambusa vulgaris) dan Bambu Peli atau bambu Ater (Gigantochloa atter), yang banyak terdapat di Kabupaten Sikka.

Sementara itu, Yuyun Darti Baetal, pendamping program dari Yayasan Bambu Lestari menyebutkan, untuk Kabupaten Sikka pengembangan tanaman bambu dilakukan di tiga desa.

Yuyun menjelaskan, Desa Umauta di Kecamatan Bola sebanyak 43 ribu anakan, Desa Du di Kecamatan Lela 40 ribu anakan dan Desa Manubura di Kecamatan Nele berjumlah 17 ribu anakan.

“Yang melakukan penanaman dan perawatan dilibatkan ibu-ibu dari kelompok Dasawisna dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kami melibatkan ibu-ibu dalam melakukan penanaman kembali bambu di wilayahnya,” jelasnya.

Yuyun menambahkan, pembibitan dilakukan di desa, para ibu-ibu akan dibayar untuk satu bibitnya sebesar Rp2.500.

Dijelaskannya, bila tanaman bambu sudah banyak akan diberikan pelatihan untuk pengolahan bambu menjadi aneka produk turunannya.

“Dengan begitu, masyarakat di desa tersebut akan mendapatkan penghasilan tambahan untuk meningkatkan kesejahteraannya,” ucapnya.

Lihat juga...