TPST BLE Banyumas Dirancang Untuk Edukasi Pengolahan Sampah

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS –Komitmen Kabupaten Banyumas dalam hal penanganan sampah hingga tuntas, diwujudkan dengan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan Sehat dan Edukasi (TPST BLE). Hingga September ini, pembangunan TPST BLE yang berlokasi di Desa Wlahar, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, sudah mencapai 80 persen.

Pembangunan TPST BLE ini sedikit molor dari target waktu, karena sebelumnya pemkab mentargetkan pada September-Oktober, TPST BLE sudah mulai dioperasikan. Hal tersebut karena faktor cuaca yang sebelumnya, beberapa kali sempat turun hujan lebat.

“Memang sedikit terlambat, namun TPST BLE Wlahar ini akan menjadi solusi besar dalam penanganan sampah di Banyumas,” kata Bupati Banyumas, Achmad Husein, Rabu (15/9/2021).

Bupati Banyumas, Achmad Husein di Purwokerto, Rabu (15/9/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

Luas area TPST BLE Wlahar 3,5 hektare dan menelan biasa hingga 50,3 miliar. Anggaran tersebut berasal dari APBN sebesar Rp40 miliar dan dana pendamping dari APBD Kabupaten Banyumas sebesar Rp6,3 miliar. Proses pembangunan sudah berjalan satu tahun lebih, dan nantinya Banyumas akan menjadi percontohan pengoperasian TPST BLE.

Lebih lanjut Bupati mengungkapkan, setelah TPST BLE Wlahar beroperasi, maka residu sampah akan habis di pengolahan. Sehingga secara teori, permasalahan sampah di Banyumas tuntas. Tak hanya itu, TPST BLE juga dirancang sebagai wisata edukasi yang dilengkapi berbagai macam tanaman serta kolam ikan.

“Jadi TPST BLE ini menggugurkan anggapan yang selama ini selalu muncul, bahwa tempat pengolahan sampah selalu bau dan kotor.  Sebaliknya, TPST BLE justru bisa dijadikan wisata edukatif bagi masyarakat, mereka bisa melihat dari dekat cara pengolahan sampah ataupun menikmati berbagai tanaman buah yang berada di sekitar lokasi TPST,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Junaidi, menyampaikan sisa residu sampah setiap harinya di Kabupaten Banyumas ada 30 truk. Dan, residu tersebut harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan keberadaan TPST BLE, maka residu tersebut akan habis diolah, sehingga kebutuhan akan TPA bisa diminimalkan.

“Kita tetap masih butuh TPA, tetapi sisa sampah atau residu yang masuk sudah sangat bisa ditekan, sehingga pengoperasian TPA bisa dikurangi,” jelasnya.

Terkait TPST BLE Wlahar tersebut, Juanedi menjelaskanakan dilengkapi tempat budi daya magot untuk mempercepat mengolahan sampah organik, serta dilengkapi pula dengan pabrik pengolahan sampah plastik. Sehingga penanganan sampah organik dan sampah plastik sudah tertangani secara tuntas, termasuk residu yang juga akan diolah hingga habis.

Lihat juga...