Tukang Jahit di Gunung Leutik Tetap Semangat, Meski tak Pernah Dapat Bantuan

Editor: Koko Triarko

BANDUNG – Berbagai saluran bantuan sosial yang dikeluarkan pemerintah sebagai respons terhadap dampak pandemi Covid-19, ternyata belum bisa menjangkau semua masyarakat kecil di Tanah Air. Masih banyak di antara mereka yang menjerit, mengeluh karena tidak tersentuh bantuan, bahkan sejak pandemi Covid-19 mewabah pertama kali.

Dede Swarna (39), misalnya, pria asal desa Gunung Leutik, Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang berprofesi sebagai penjahit, mengaku sama sekali tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah selama pandemi.

“Bantuan UMKM tidak dapat, bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) tidak dapat, BLT tidak dapat. Padahal, saya sudah mendaftar, tapi tetap saja tidak dapat. Saya juga heran,” ujar Ded  di lapak jahitnya, Selasa (7/9/2021).

Dede yang sejak belasan tahun menggantungkan penghasilan ekonominya dari usaha menjahit itu, mengaku mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis akibat kebijakan pemerintah membatasi kegiatan masyarakat.

“Kalau sekarang-sekarang sih mulai normal lagi, jahit baju seragam anak sekolah mulai ada. Tapi, waktu awal corona muncul, betul-betul susah saya. Bayar sewa kios kecil ini saja sudah susah, padahal cuma Rp150 ribu per bulan, ya karena minim orderan,” tandas Dede.

Yang lebih ironis, sambung Dede, tidak jarang ia menjumpai orang-orang dengan tingkat ekonomi yang cukup, bahkan bisa disebut mapan, namun rutin mendapatkan bantuan.

“Inilah yang bikin saya sedih. Kok orang-orang mampu dapat bantuan, tapi yang kaya saya, penjahit kecilan malah tidak dapat sama sekali?” tukasnya.

Bukan hanya Dede, Iwan (45), pedagang bubur ayam di jalan raya Pacet, Ciparay, Kabupaten Bandung, juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengaku selama masa pandemi hanya satu kali menerima bantua, itu pun hanya Rp100ribu.

“Cuma itu saja satu-satunya bantuan yang pernah saya dapat. Itu pun ngantrenya, subhanallah, sampai berjam-jam,” kata Iwan.

Lebih lanjut, Iwan mengaku usahanya mengalami dampak yang sangat parah akibat pandemi, terutama saat sekolah ditutup. Lantaran kebanyakan pelanggannya adalah anak sekolah.

“Tidak jarang sehari itu jualan cuma dapat Rp10 ribu. Buat nutupin modal aja tidak cukup. Tapi kita tidak punya pilihan lain, harus tetap jualan, daripada tidak ada pendapatan sama sekali,” pungkas Iwan.

Lihat juga...