Update 3 September 2021, Angka Kematian Harian dan Jumlah Kasus Baru Menurun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pada tanggal 3 September 2021, Indonesia mencatatkan penurunan angka kematian harian dan penurunan jumlah kasus baru.

Sesuai dengan update dari Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB) pada Jumat, 3 September 2021, mencatatkan kasus baru 7.797 menjadi 4.116.890, menurun dari hari kemarin yang mencatatkan 8.955. Angka kematian harian tercatat 574 menjadi 134.930 kasus atau 3,277 persen dari jumlah kasus keseluruhan.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 15.544 menjadi 3.813.643 atau 92,634 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Barat 845, Jawa Timur 771, Jawa Tengah 727, Sumatera Utara 566, Bali 394, Kalimantan Timur 366, DI Yogyakarta 353, DKI Jakarta 343, Aceh 339 dan Riau 299.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Tengah 121, Jawa Barat 96, Jawa Timur 85, Riau 26, Aceh 24, Lampung 23, Sumatera Utara 22, Kalimantan Timur 21, Bali, DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masing-masing 18 serta Kalimantan Selatan 13.

Sementara itu, per 3 September 2021, pukul 10.29 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 220.102.648 dengan jumlah kematian sebanyak 4.559.549 dan kasus sembuh 196.775.848.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 7 dengan 7.797 kasus, setelah Iran 27.621, Philipina 20.310, Malaysia 19.378, Rusia 18.856, Jepang 18.228, Mexico 18.138 dan Thailand 14.653. Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi ketiga dengan jumlah 574 jiwa, setelah Mexico 993 dan Rusia 799 jiwa.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke empat dalam total kasus 4.116.890 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 574, diikuti Iran 561, Malaysia 330, Thailand 271 dan Philipina 193 jiwa.

Grafik per Provinsi tanggal 3 September 2021 – Dokumen BNPB

Hingga saat ini, melalui whole gnome sequencing diketahui bahwa mayoritas virus COVID 19 adalah varian Delta. Tapi, Indonesia tak boleh luput dalam mewaspadai varian MU atau B.1.621 yang merupakan varian terbaru.

Guru Besar FK Universitas Indonesia, Prof Tjandra Yoga, Rabu (17/2/2021) – Foto Ranny Supusepa

Guru Besar FK Universitas Indonesia, Prof Tjandra Yoga menyebutkan, per 30 Agustus lalu varian MU masih masuk dalam Varian of Interest (VoI).

“Walaupun begitu, Indonesia patut mewaspadai varian baru ini. Sejauh ini memang yang terpantau melalui whole gnome sequencing belum ditemukan adanya varian MU,” kata Prof. Tjandra.

Selain varian MU, yang termasuk dalam VoI juga adalah Eta, Iopa, Kappa dan Lamda, yang masih dilakukan pemantauan terkait dampak dan keparahan pada manusia.

Khusus varian MU, data laboratorium awal menunjukkan bahwa varian ini tidak dapat dinetralisir oleh antibodi yang dihasilkan oleh vaksinasi COVID 19 yang ada saat ini. Dengan sifat penyebaran dan penularan yang lebih rendah dibandingkan varian Delta serta baru ditemukan kurang dari 0,1 persen dari semua kasus.

Lihat juga...