Update 6 September 2021 : Kasus Baru Terus Turun, Jabar Catatkan 180 Kematian Harian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pada Senin, 6 September 2021, Indonesia terus mencatatkan penurunan angka kasus baru COVID-19 dan hanya tinggal Jawa Barat yang mencatatkan kasus kematian harian di atas 100.

Sesuai dengan update dari Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB) pada Senin, 6 September 2021, untuk kasus baru bertambah 4.413 menjadi 4.133.433, menurun dari hari kemarin 5.403. Kematian harian tercatat 612 menjadi 136.473 kasus atau 3,301 persen dari jumlah kasus keseluruhan.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 13.409 menjadi 3.850.689 atau 93,159 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Tengah 751, Jawa Barat 405, Jawa Timur 361, DKI Jakarta 217, Bali 208, DI Yogyakarta 198, Sumatera Utara 191, Kalimantan Timur 189, Sulawesi Tengah 183 dan Aceh 164.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Barat 180, Jawa Timur 81, Jawa Tengah 71, Sumatera Utara 35, Lampung 34, Riau 29, Bali 17, DKI Jakarta 16, DI Yogyakarta 15 serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan masing-masing 14.

Sementara itu, per 6 September 2021, pukul 10.08 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 221.636.948 dengan jumlah kematian sebanyak 4.583.330 dan kasus sembuh 198.152.094.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 6 dengan 4.413 kasus, setelah Philipina 22.415, Rusia 17.856, Thailand 13.988, Jepang 12.908 dan Mexico 7.504. Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi kedua dengan jumlah 612 jiwa, setelah Rusia 790.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke empat dalam total kasus 4.133.433 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 612, diikuti Thailand 187 dan Philipina 103 jiwa.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Jumat (6/8/2021) – Foto Ranny Supusepa

Penurunan angka kematian harian dan angka kasus baru harian, bukan berarti pandemi COVID 19 di Indonesia sudah berakhir. Hal ini ditegaskan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, yang menyatakan bahwa kasus melandai tak bisa serta merta menjadi pertanda bahwa COVID 19 sudah tidak ada.

“Kita bercermin pada negara lain saja. Contohnya India. Sempat mengalami peningkatan kasus, berhasil ditekan, lalu kembali mengalami peningkatan kasus. Negara Jepang, yang memiliki angka cakupan vaksinasi tinggi, saat ini kembali mengalami peningkatan kasus,” kata Nadia saat dihubungi, Senin (6/9/2021).

Disebutkan, pemerintah memberlakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk mangantisipasi kejadian tersebut dan memastikan agar masyarakat dapat dibatasi kegiatannya agar penyebaran virus dapat dicegah.

Ia menghimbau masyarakat untuk tetap tak abai pada protokol kesehatan meskipun pada data, ada beberapa daerah yang mengalami perubahan level PPKM.

“Perlu diketahui, bahwa di Indonesia ini yang paling banyak adalah varian Delta. Varian yang hingga saat ini tercatat sebagai varian yang paling cepat penularannya dibandingkan varian asalnya. Diikuti dengan varian Alfa dan Beta. Jadi walaupun sudah ada pelonggaran sesuai dengan perubahan level, masyarakat harus tetap melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin,” pungkasnya.

Lihat juga...