Update 9 September 2021, Angka Kematian Harian Menurun Drastis

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pada 9 September 2021, Indonesia kembali mencatatkan penurunan angka kematian harian dan kasus baru harian.

Sesuai dengan update dari Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB) pada Kamis, 9 September 2021, kasus baru bertambah 5.990 menjadi 4.153.355, menurun dari hari kemarin yang mencatatkan 6.731 kasus.

Angka kematian harian bertambah 334 menjadi 138.116 kasus atau 3,325 persen dari jumlah kasus keseluruhan. Menurun jauh dari catatan kematian harian kemarin, yaitu 626 kasus.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 10.650 menjadi 3.887.410 atau 93,596 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Tengah 534, Jawa Barat 517, Jawa Timur 508, Sumatera Utara 431, DKI Jakarta 308, Kalimantan Timur 273, Kalimantan Barat 268, Bali 256, Kalimantan Selatan 241 dan Aceh 230.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Tengah 78, Jawa Timur 45, Riau 22, Lampung 20, DI Yogyakarta 18, Kalimantan Timur dan Bali masing-masing 16, DKI Jakarta dan Jawa Barat 13, Aceh 11, Bangka Belitung 10 dan Sulawesi Tengah 8.

Grafik per provinsi kondisi COVID 19 tanggal 9 September 2021 – Dokumen BNPB

Sementara itu, per 9 September 2021, pukul 09.52 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 223.491.125 dengan jumlah kematian sebanyak 4.611.473 dan kasus sembuh 200.033.802.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi posisi ke 13, untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 5 dengan 5.990 kasus, Rusia 18.380, Thailand 16.031, Mexico 15.876 dan Jepang 12.398. Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi ketiga dengan jumlah 334 jiwa, setelah Mexico 879 dan Rusia 794.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi ke empat dalam total kasus 4.153.355 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 334, diikuti Thailand 220 dan Jepang 88 jiwa.

Capaian positif penanganan pandemi COVID 19, diharapkan dapat terjaga dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID 19, Prof Wiku Adisasmito, Jumat (20/8/2021) – Foto Ranny Supusepa

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID 19, Prof Wiku Adisasmito menyatakan, dalam fase mempertahankan capaian positif ini, yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat adalah peningkatan kapasitas publik jangka panjang.

“Maksudnya adalah kemampuan mengidentifikasi secara mandiri, setiap kondisi pandemi ini. Terutama, pada pemerintah daerah untuk merespon setiap kejadian sesuai dengan kebutuhan wilayahnya masing-masing,” kata Wiku, Kamis (9/9/2021).

Ia juga menyebutkan, diperlukan suatu dasar pembangunan jangka panjang yang didalamnya juga menyertakan ketahanan kesehatan masyarakat.

“Perlu juga dilakukan evaluasi kebijakan nasional dan sistem pengendalian yang lebih efisien secara berkala misalnya pembaharuan poin pengetat-longgaran dan digitalisasi skrining kesehatan,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan pemerintah akan melanjutkan vaksinasi COVID-19 dan penyakit esensial lainnya sebagai bentuk penjagaan kesehatan jangka panjang masyarakat Indonesia.

“Investasi jangka panjang untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat secara berkelanjutan. Tetap melaksanakan kegiatan ekonomi yang produktif namun tetap terkendali,” ucapnya lagi.

Ia menegaskan, mengubah pandemi menjadi endemi dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi Indonesia pasti akan mampu melakukannya.

“Dengan modal perkembangan kasus yang semakin hari semakin baik, maka kita memiliki target besar bersama untuk selangkah lebih maju mempertahankan kondisi kasus yang cukup terkendali,” pungkasnya.

Lihat juga...