Update COVID-19 11 September 2021: Angka Kematian Harian tak Lebih dari 40 Jiwa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Update  COVID-19 pada tanggal 11 September 2021 Indonesia, angka kematian harian terus menurun. Bahkan angka kematian harian tertinggi yang dicatatkan oleh Provinsi Jawa Timur, tak lebih dari 40 jiwa.

Sesuai dengan update dari Badan Pengendalian Bencana Nasional (BNPB) pada Sabtu, 11 September 2021, mencatatkan kasus baru 5.001 menjadi 4.163.732, menurun dari hari kemarin yang mencatatkan 5.376.

Angka kematian harian tercatat 270 yang menjadikan jumlah kematian menjadi 138.701 kasus atau 3,331 persen dari jumlah kasus keseluruhan. Menurun jauh dari catatan kematian harian kemarin, yaitu 315.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 7.586 menjadi 3.909.352 atau 93,890 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Timur 547, Jawa Barat 446, Sumatera Utara 374, Jawa Tengah 295, Kalimantan Barat 271, DKI Jakarta 268, Kalimantan Timur 240, Bali 227, Aceh 207 dan Bangka Belitung 198.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Timur 39, Jawa Tengah 31, Aceh 25, DKI Jakarta 20, Kalimantan Timur 18, Bali 16, Sumatera Utara dan DI Yogyakarta 13, Riau 10, Bangka Belitung, Lampung dan Kalimantan Selatan masing-masing 9 serta Sulawesi Tengah 8.

Sementara itu, per 11 September 2021, pukul 9.48 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 224.741.412 dengan jumlah kematian sebanyak 4.632.374 dan kasus sembuh 201.289.824.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi ke 13 untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 6 dengan 5.001 kasus, setelah Filipina 26.303, Rusia 18.891, Thailand 15.191, Mexico 14.233 dan India 7.453.

Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi ketiga dengan jumlah 334 jiwa, setelah Rusia 796 dan Mexico 699.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi keempat dalam total kasus 4.163.732 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 270, diikuti Thailand 253 dan Filipina 79 jiwa.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, menyatakan, adanya perkembangan baik dari kasus positif di daerah Jawa dan Bali.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, Jumat (20/8/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Kasus Positif Jawa Bali turun 74 persen. Ini adalah perkembangan yang sangat baik. Walaupun untuk kawasan Papua dan Maluku, kasus aktifnya masih berada di peringkat keempat yakni 8,6 persen,” kata Wiku.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan masih perlunya peningkatan penanganan pasien COVID-19 yang masih sakit agar segera sembuh.

“Saya mengimbau para gubernur di Pulau Maluku – Papua untuk fokus pada peningkatan pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan. Lakukan sinkronisasi data antara pusat dan daerah untuk terus diupayakan agar data perkembangan COVID-19 dapat terus akurat,” ucapnya.

Tak hanya untuk wilayah Papua dan Maluku, Wiku juga meminta agar masing-masing kepala dinas kabupaten/kota di wilayah Indonesia lainnya sesegera mungkin melakukan sinkronisasi data dan berkoordinasi dengan Pusdatin Kemenkes.

“Untuk sinkronisasi, belajar dari Depok yang mampu menyelesaikan sinkronisasi 17 ribu kasus dalam 1 minggu,” ucapnya lagi.

Wiku juga mengingatkan pada provinsi yang menjadi penyumbang kasus tertinggi di masing-masing pulau agar berupaya menekan penambahan kasus secara maksimal.

“Pulau Sumatera yaitu Riau, yang mencatatkan 20,52 persen, untuk Pulau Jawa – Bali di DKI Jakarta yang mencatatkan 30,38 persen, di Pulau Kalimantan ada Kalimantan Timur dengan 45,41 persen, di Pulau Sulawesi ada Sulawesi Selatan yang mencatatkan 46,63 persen, di Pulau Nusa Tenggara yakni NTT dengan 69 persen dan untuk Pulau Maluku – Papua ada di Papua dengan 40 persen,” urainya.

Ia meminta setiap daerah untuk terus memaksimalkan pengawasan penerapan protokol kesehatan, terutama di fasilitas umum dan fasilitas sosial.

“Lalu, perkuat posko desa untuk memastikan penanganan tingkat terkecil,” pungkasnya.

Lihat juga...