Update COVID-19 7 September 2021: Kematian Harian dan Kasus Baru Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pada tanggal 7 September 2021, Indonesia mencatat peningkatan angka kematian harian dan juga jumlah kasus baru atas wabah Covid-19.

Sesuai dengan update dari Badan Pengendalian Bencana Nasional (BNPB) pada Selasa, 7 September 2021, mencatat kasus baru 7.201 menjadi 4.140.634, meningkat dari hari kemarin yang mencatat 4.413.

Angka kematian harian tercatat 683, yang menjadikan jumlah kematian menjadi 137.156 kasus atau 3,312 persen dari jumlah kasus keseluruhan. Terjadi peningkatan angka kematian harian yang sebelumnya 612 kasus.

Untuk angka kesembuhan, terjadi penambahan sebanyak 14.159 menjadi 3.864.848 atau 93,339 persen dari keseluruhan kasus.

Dari pergerakan data tersebut, penambahan kasus baru untuk sepuluh besar yakni Jawa Tengah 964, Jawa Barat 778, Jawa Timur 675, Sumatera Utara 448, Kalimantan Timur 400, Bangka Belitung 297, Bali 295, Aceh 279, DKI Jakarta 262 dan Kalimantan Barat 254.

Untuk angka kematian terbesar harian, untuk sepuluh besar dicatat secara berurut oleh Jawa Barat 252, Jawa Tengah 116, Jawa Timur 79, Sumatera Utara 40, Aceh 30, Bali 21, Riau 18, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta masing-masing 13, Bangka Belitung dan DI Yogyakarta masing-masing 12 serta Sumatera Selatan 8.

Sementara itu, per 7 September 2021, pukul 10.16 GMT, berdasarkan data dari worldometers.info terjadi penambahan kasus menjadi 222.052.944 dengan jumlah kematian sebanyak 4.590.307 dan kasus sembuh 198.669.095.

Di tatanan dunia, Indonesia menempati posisi ke 13 untuk jumlah kumulatif kasus. Kasus baru harian, Indonesia berada di posisi ke 5 dengan 7.201 kasus, setelah Filipina 18.012, Rusia 17.425, Thailand 13.821 dan Jepang 8.234.

Untuk angka kematian harian, Indonesia berada di posisi kedua dengan jumlah 683 jiwa, setelah Rusia 795.

Sementara dalam kelompok Asia, dari 49 negara, Indonesia masih menempati posisi keempat dalam total kasus 4.140.634 dan penyumbang terbanyak kasus kematian harian, yaitu 612, diikuti Thailand 241 dan Filipina 161 jiwa.

Menyikapi kondisi penanganan pandemi COVID-19, Peneliti Kesehatan Masyarakat IDEAS, Fajri Azhari menyebutkan, seharusnya pemerintah memusatkan penanganan pada penekanan kasus sampai di titik nol.

Peneliti Kesehatan Masyarakat IDEAS, Fajri Azhari, dijumpai Rabu (23/12/2020) lalu – Foto: Ranny Supusepa

“Karena setiap nyawa yang hilang yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 sangat berharga terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Angka di balik data kematian harian yang tinggi adalah cermin penanganan Covid-19 yang lemah,” kata Fajri saat dihubungi, Selasa (7/9/2021).

Ia juga menyatakan agak sulit memastikan sampai kapan PPKM diberlakukan.

“Dinamikanya masih naik turun walaupun trennya menurun. Kasus aktif Indonesia saat ini masih berada di atas 100 ribu,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Indonesia harusnya berkaca pada penanganan New Zealand kasus COVID-19 relatif terkendali. Kasus aktif berada pada angka di bawah 1000.

“Dengan kebijakan eliminasi virus, per Senin kemarin pembatasan sosial dicabut secara nasional. Namun, tidak dengan kota Auckland yang menjadi episentrum wabah. Artinya, untuk sekarang, masih jauh dari kata menghilangkan kebijakan PPKM di Indonesia,” ujarnya lagi.

Fajri menyebutkan dengan kondisi Indonesia saat ini, perpanjangan PPKM masih akan berlanjut hingga tahun depan.

“Karena strategi menghadapi COVID-19 yang digunakan Indonesia hanya sekedar menurunkan kasus apabila kapasitas RS overload dengan pasien terkonfirmasi Covid-19. Harusnya pakai kebijakan strategi eliminasi,” pungkasnya.

Lihat juga...