Vaksinasi COVID-19 di Portugal telah Mencapai 80 Persen Populasi

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin COVID-19 di pusat vaksinasi di Seixal, Portugal, Sabtu (11/9/2021) - foto Ant

LISBON – Portugal, telah memvaksinasi secara penuh 80 persen populasinya, terhadap virus corona. Hal itu menjadikan Portugal sebagai salah satu negara dengan tingkat vaksinasi COVID-19 tertinggi di dunia.

Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Portugal, saat ini secara bertahap melonggarkan sebagian besar kebijakan pembatasan COVID-19. “Saya tidak peduli jika kita nomor 1, 2, atau 3 (di dunia),” kata kepala satuan tugas vaksinasi Portugal, Laksamana Madya Henrique de Gouveia e Melo, setelah mengunjungi pusat vaksinasi dekat ibu kota Lisbon.

Portugal dan Uni Emirat Arab, memiliki tingkat vaksinasi lengkap yang sama. Keduanya bersama-sama memimpin tingkat vaksinasi dunia. Negara di Eropa selatan tersebut, pada awal tahun ini telah berjuang melawan gelombang virus corona terburuk di dunia. “Kini mereka telah memvaksin sekira 8,2 juta orang dari populasinya, yang hanya 10 juta lebih,” kata otoritas kesehatan DGS.

DGS menyebut, hampir semua orang dewasa di atas 65 tahun dan setengah dari remaja berusia 12-17 tahun di negara itu, telah mendapat dosis vaksin lengkap. Setiap orang yang berusia di atas 12 tahun berhak menerima vaksin di Portugal. “Yang saya inginkan adalah, mengendalikan virus, memvaksin sebanyak mungkin orang yang memenuhi syarat, sehingga virus tidak memiliki ruang untuk bermanuver,” ujar Gouveia e Melo.

Gouveia e Melo, banyak dipuji karena menyiapkan program vaksinasi dengan cepat, yang memungkinkan Portugal mencabut sebagian besar pembatasan virus corona. Masker tidak lagi wajib dipakai di luar ruangan mulai Senin (13/9/2021) lalu.

Dia mengatakan Portugal mulai menginokulasi dengan kecepatan yang sama dengan negara-negara Uni Eropa lainnya. Namun ketika gerakan anti-vaksinasi muncul di mana-mana, jumlah penyangkal vaksin di Portugal hanya sekitar tiga persen, dan negara itu mempercepat proses vaksinasinya.

Gouveia e Melo memperingatkan, pertempuran melawan COVID-19 belum berakhir, sampai semua negara, kaya dan miskin, dapat mengakses vaksin. “Kita melihat vaksin berlebihan di negara-negara kaya dan kemudian tidak ada vaksinasi di negara-negara miskin. Saya tidak setuju dengan itu, bukan hanya karena etika dan moral, tetapi karena itu bukan strategi terbaik dan sikap rasional,” tutur Gouveia e Melo. (Ant)

Lihat juga...