Wapres Sayangkan Nasib Petani Belum Berkecukupan

Editor: Koko Triarko

Wakil Presiden RI, KH.Mar'uf Amin, saat memberikan sambutan acara virtual penghargaan bidang pertanian tahun 2021 di Jakarta yang diikuti Cendana News, Senin (13/9/2021). -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Wakil Presiden RI, KH.Mar’uf Amin, menyayangkan kesejahteraan hidup para petani masih jauh dari kecukupan. Padahal, sektor pertanian tumbuh signifikan 1,75 persen, ketika banyak sektor yang terkontraksi.

Menurut KH.Mar’uf, tujuan pembangunan pertanian yang ditetapkan meliputi tiga hal. Yakni, pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani, dan meningkatkan ekspor.

Terkait pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia, menurutnya pemerintah masih bisa menjamin ketersediaan 11 komoditas utama bagi 273 juta jiwa masyarakat Indonesia.

“Produksi beras nasional dalam dua tahun terakhir pun sangat menjanjikan, hingga minggu ke tiga Agustus 2021, stok beras mencapai 7,60 juta ton,” ujar KH. Mar’uf, dalam sambutan acara virtual penghargaan bidang pertanian 2021 di Jakarta, Senin (13/9/2021).

Dikatakan dia, kondisi kondusif stok pangan di dalam negeri juga diikuti dengan terus meningkatnya kinerja ekspor pertanian. Ini dibuktikan dari data Badan Pusat Statistik (BPS), yang mencatat total ekspor pertanian dari Januari hingga Juli 2021 mencapai 2,24 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau meningkat 8,72 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sedangkan berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2021, lapangan kerja yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah sektor pertanian, kehutanan, dan Perikanan, yaitu sebesar 29,59 persen.

“Lapangan kerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Februari 2021 mengalami peningkatan sebesar 0,36 persen, dibandingkan Februari 2020  sebesar 29,23 persen,” ujar KH.Mar’uf Amin, yang juga merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI).

Namun sayangnya, kata dia, sektor pertanian tumbuh signifikan, tapi kehidupan para petani, terutama untuk tanaman pangan, seperti padi, masih jauh dari berkecukupan.

Data BPS mencatat sepanjang 2020, sektor pertanian mampu tumbuh 1,75 persen, ketika banyak sektor justru terkontraksi.

“Tahun 2020 sektor pertanian tumbuh 1,75 persen. Tapi, data BPS juga mencatat sumber penghasilan utama, jumlah rumah tangga tergolong miskin di Indonesia sebagian besar berasal dari sektor pertanian, yaitu 46,30 persen,” ujar KH.Mar’uf.

Dengan demikian, kata dia, peningkatan kesejahteraan para petani masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang harus diselesaikan semaksimal mungkin.  Utamanya dengan pengembangan  inovasi dan terobosan melalui reformasi pertanian, intensifikasi produksi, dan peningkatan akses pasar.

Semua pengembangan itu, menurutnya menjadi upaya nyata yang harus diimplementasikan pelaksanaannya di lapangan secara konsisten, untuk mewujudkan kesejahteraan hidup petani.

Apalagi, menurutnya besarnya tantangan yang dihadapi para petani saat ini di tengah kondisi pandemi Covid-19, tentu harus berpikir kreatif.

Karena tantangan yang dihadapi petani juga tidak mudah. Bahkan sejak awal pandemi, Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan peringatan, bahwa pandemi berpotensi mengakibatkan terjadinya krisis pangan global.

Pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan berimplikasi pada kebijakan pangan di setiap negara, hingga dapat menurunkan kemampuan produksinya.

Dan, menurutnya ketangguhan sektor pertanian di masa krisis seperti saat ini, tentunya tidak dapat dilepaskan dari kerja keras dan sinergi para insan pertanian yang berkomitmen.

“Saya harapkan para petani harus mampu menciptakan terobosan-terobosan yang dapat membuat kita beradaptasi dengan perubahan yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...