Warga Desa di Situbondo Manfaatkan Sumber Air Alami

Editor: Makmun Hidayat

SITUBONDO — Sumber air bersih menjadi kebutuhan pokok warga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga, ketersediaannya memiliki manfaat tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Situbondo, Jawa Timur, misalnya, terdapat sumber air bersih yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu.

Kepala Desa Arjasa, Drs. H. Abuzairi mengatakan, ketersediaan sumber air bersih sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Diyakini, sumber air bersih tersebut merupakan peninggalan pada zaman Belanda.

“Air yang tersedia hampir tidak pernah habis, walaupun tidak ada penutup air yang digunakan. Setiap hari, air sumber yang ada dibiarkan begitu saja, keluar secara terus menerus,” ujarnya kepada Cendana News, di Situbondo, Rabu (29/9/2021).

Abuzairi mengaku, sumber air yang dihasilkan banyak diminati oleh warga masyarakat. Selain diminati oleh warga lokal, tak jarang warga luar turut memanfaatkan sumber air tersebut.

“Warga rata-rata memanfaatkan sumber air itu untuk dikonsumsi. Karena, air yang dihasilkan dari sumber tersebut dingin secara alami,” ucapnya.

Lebih lanjut Abuzairi mengatakan, sumber air yang tersedia, letaknya tidak jauh dari pusat kota, bahkan berada di pinggir jalan pantura. Sehingga masyarakat yang berasal dari luar kota, sering kali menyempatkan berhenti sejenak untuk mengambil air tersebut.

“Walaupun tempatnya berada di pinggir jalan, sumber air yang keluar tidak pernah habis, atau berkurang. Dari sejak dahulu sampai sekarang, ketersediaan sumber yang ada masih dirasa sama,” jelasnya.

Jamilun, mengambil puluhan liter air untuk kebutuhan konsumsi di rumah, Rabu (29/920/21). -Foto: Iwan Feri Yanto

Abizairi mengatakan, perubahan cuaca iklim yang terjadi, tidak memiliki pengaruh besar terhadap sumber air tersebut. Seperti saat ini masuk pada musim kemarau, ketersediaan sumber air yang keluar bahkan tidak tidak berkurang.

Secara terpisah, Jamilun, warga yang berasal dari Bali mengatakan, sejak dirinya masih menjadi pengawal sopir, sudah rutin mengambil air untuk dikonsumsi di tempat sumber tersebut. Tak tanggung-tanggung, air yang diambil puluhan liter.

“Dulu sekitar tahun 1990-an, saya diberi tahu salah satu sopir kendaraan antar kota, kalau di sini ada sumber mata air yang alami. Sejak saat itu, saya rutin mengambil air di sini juga,” ucapnya.

Menurut pengakuannya, selama puluhan tahun, ketersediaan sumber air tidak berubah. Hanya saja fasilitas lain yang banyak berubah. “Dulu di sini pohon bambu, belum ada ruangan yang digunakan sebagai tempat untuk peneduh apabila warga antre mengambil air di sini,” jelasnya.

Lihat juga...