Warga Kota Batu Sukses Usaha Jambu Kristal Organik

Editor: Koko Triarko

BATU – Berawal dari keinginan untuk mengubah usaha pertanian agar lebih profesional, Rakhmad Hardiyanto (35) rela meninggalkan pekerjaannya untuk fokus menjalankan usaha budi daya jambu kristal Taiwan secara organik sejak 2012.

Kini, di usianya yang masih muda, Hardi terus menambah jumlah pohon yang awalnya hanya 60 pohon menjadi 8.000 lebih pohon. Bahkan, saat ini ia dibantu 17 karyawan tetap untuk mengembangkan usaha budi daya jambu kristal.

Diceritakan Hardi, keinginannya untuk terjun ke dunia pertanian muncul setelah melihat potensi pertanian di desa Bumiaji, kota Batu, khususnya pertanian jambu kristal yang dibudidayakan mertuanya, Imam Gozali, sejak 2008. Menurutnya, potensi budi daya jambu kristal sebenarnya sangat luar biasa jika bisa dikelola secara manajerial.

“Akhirnya saya keluar dari pekerjaan, dan menyampaikan ke mertua keinginan untuk mengubah wajah pertanian ke arah profesional manajemen. Alhamdulillah, mertua saya setuju dan akhirnya kami memulai wirausaha di bidang pertanian ini,” ceritanya, saat ditemui Cendana News di kebunnya yang berada di desa Bumiaji, Kota Batu, Minggu (12/9/2021).

Sadar tidak memiliki latar belakang pertanian, Hardi yang merupakan seorang sarjana teknik ini memulai usahanya melalui pendekatan pemasaran dengan menjadi petani hilir.

Kebun jambu kristal di desa Bumiaji, kota Batu, Minggu (12/9/2021). -Foto: Agus Nurchaliq

“Jadi, saya jualan dulu. Bagaimana cara memasarkan, cara mengemas, bagaimana cara mendeliver produk ini sampai ke retail modern, konsumen dan end user, itu yang saya lakukan di awal usaha,” akunya.

Setelah berjalan, alhamdulillah sejak 2014 mulai ada kemitraan karena marketnya sudah terbentuk, sehingga butuh pasokan buah jambu kristal lebih banyak dari sebelumnya. Karenanya, hingga saat ini ia telah memiliki 47 petani mitra di kota Batu untuk menyuplai kebutuhan jambu kristal.

“Alhamdulillah, sampai hari ini kita terus dapat suplai dari petani mitra. Bahkan, suplai dari kebun kami sendiri saja hanya sekitar 20 persen, sisanya 80 persen berasal dari petani mitra,” sebutnya.

Menurutnya, rata-rata petani mitra yang diajak kerja sama bukan merupakan petani jambu. Ada yang petani apel, petani jeruk, petani sayur, yang penting mereka memiliki latar belakang petani dan mempunyai lahan untuk ditanami jambu kristal.

“Jadi, kita lakukan pendekatan secara kearifan lokal kepada mereka. Kita pastikan market dari para petani jambu dan kita juga pastikan harganya rasional di tingkat petani. Itu yang membuat kita sustainable sampai hari ini,” ungkapnya.

Bahkan, target kami dari pasokan petani mitra ini bisa menghasilkan panen 1 ton jambu kristal per minggu, imbuhnya.

Lebih lanjut, disampaikan Hardi, sebelum pandemi Covid-19 melanda, 60 persen pemasaran untuk pariwisata. Baik, melalui wisata petik jambu maupun di pusat oleh-oleh, karena memang pada saat itu segmen pasarnya adalah wisata.

Namun dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, karena ada kebijakan pemerintah yang harus ditaati terkait penutupan pariwisata selama hampir 2 tahun ini, akhirnya pola pemasarannya juga ikut bergeser. Ada yang dijual ke retail modern, ada yang lewat media online, e-commerce, dan ada juga yang dijual melalui reseller online maupun offline.

“Ada 3 grade jambu kristal yang kita jual berdasarkan ukuran dan kualitasnya. Grade A dijual Rp 15.000 per kg, grade B Rp.12.500 per kg dan grade C dihargai Rp 10.000 per kg,” sebutnya.

Diakui Hardi, untuk saat ini jambu kristal hasil budidayanya baru dipasarkan di dalam negeri saja, seperti di Malang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali. Namun, ia tidak menampik ada keinginan untuk mengekspor jambu kristal hingga ke luar negeri.

Menurutnya, jika berbicara tentang ekspor, kita harus memastikan kuantitas, kualitas dan sustainability.

“Untuk ekspor kita masih terkendela di penanganan pascapanen, kami masih belum. Tapi, semoga dalam waktu dekat ini sudah bisa membuat teknologi pascapanen yang memang lebih untuk kebutuhan mengarah ke ekspor,” ujarnya.

Berikutnya jika berbicara ekspor, kita harus tahu negara tujuan. Jangan sampai hanya sekadar bisa ekspor, tapi ternyata dari segi nilai ekonominya ternyata lebih bagus ketika dijual ke Indonesia timur. Bisa jadi, harganya mungkinn lebih tinggi dengan biaya administrasi yang lebih rendah.

“Tapi kalau ada negara yang membutuhkan jambu kristal dan hitungan nilai ekonominya ternyata masih masuk dan menguntungkan, tidak apa-apa kita ekspor,” tuturnya.

Sementara itu, bagian riset, Ahmad Marzuki, menyebutkan bahwa selain buah segar jambu kristal, mereka juga menjual produk makanan olahan jambu kristal berupa rujak shake dan kue kering kristal pastry.

“Untuk rujak shake dan Kristal pastry isi 6 kami jual dengan harga Rp15.000,” pungkasnya.

Lihat juga...