Wisata Kuliner dan Warkop di Tengah Sawah Diminati di Solok

Salah seorang pengunjung tengah menikmati secangkir teh di objek wisata warung kopi sawah, Solok, Sumbar - Foto Ant

SOLOK – Objek wisata kuliner warung kopi (Warkop), yang ada di tengah sawah, di Kelurahan Tanjung Paku, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, Sumbar diminati para pengunjung. Warung tersebut menyediakan berbagai jenis makanan tradisional khas Minangkabau.

Pengelola Objek Wisata Kuliner Warung Kopi Sawah, Diki Asnur menyebut, makanan khas Minangkabau yang disediakan di warung kopi sawah berupa lemang pisang, lepat ketan, dan teh telur. Sementara untuk menu makan berupa, bebek sawah, belut, dan beberapa makanan khas lainnya. “Kami menyediakan makanan tradisional khas Minangkabau yang saat ini mulai jarang ditemukan di tengah masyarakat dan ternyata banyak diminati wisatawan,” kata Diki, Rabu (1/9/2021).

Dalam kegiatan tersebut, Diki memberdayakan masyarakat sekitar, untuk menyediakan makanan yang disajikan. “Kami memesan ke ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Tanjung Paku, yang bisa membuat makanan tradisional tersebut,” jelasnya.

Warkop sawah, sebelumnya merupakan objek wisata Taman Kitiran, yang cukup ramai dikunjungi wisatawan sebelum pandemi COVID-19. Letaknya tidak jauh dari terminal lama Kota Solok. “Semenjak pandemi COVID-19, konsep wisata Taman Kitiran yang semula berupa eduturizem, diubah menjadi konsep wisata kuliner atau Warung Kopi Sawah, yang saat ini menjadi salah satu ikon wisata kuliner di Kota Solok,” jelasnya.

Sebagai penggerak objek wisata, mesti melakukan suatu inovasi, di tengah situasi pandemi seperti saat ini. Jika tidak ada inovasi, sektor pariwisata bisa tutup. Dengan inovasi, semenjak dilakukan perubahan ke warung kopi sawah, justru memunculkan peluang baru. “Dengan demikian, mulai ada peluang baru, mulai ada tenaga kerja, peluang bisnis, terbuka kesempatan untuk mendapatkan pemasukan. Setidaknya bisa bertahan di situasi pandemi COVID-19 ini,” tandas Diki.

Kendati demikian, taman kitiran tetap dengan kegiatan eduturizemnya, salah satunya tetap mengadakan pelatihan kepemimpinan bagi siswa. Termasuk kegiatan hidup di alam yang ditawarkan ke sekolah dasar. “Pada akhir 2020, kembali diminati termasuk konsep wisata, kem tahfiz, minat khusus seperti panahan. Kemudian ketika diberlakukannya kebijakan PPKM pada tahun ini, memang berdampak lagi terhadap sektor pariwisata. Karena harus ditutup tempat wisata dan pengunjung berkurang,” jelasnya.

Ia berharap, pandemi COVID-19 segera berakhir dan ke depannya ia berkeinginan untuk mengembangkan objek wisata itu menjadi desa wisata Tanjung Paku. Jika hal tersebut berhasil dilakukan, maka semua potensi yang ada di desa akan dimaksimalkan.

Di kelurahan Tanjung Paku terdapat beberapa wisata kuliner, wisata membatik, wisata agro, edu tourism, camping ground dan wisata budaya dan cagar budaya. “Semoga pandemi ini segera berakhir. Kami berharap objek wisata ini terus berkembang yang awalnya hanya berupa satu destinasi objek wisata saja berupa taman kitiran atau warung kopi sawah, diharapkan ke depannya berubah menjadi kawasan desa wisata Tanjung Paku,” tandasnya.

Menurut dia saat ini tren perubahan wisata, yakni dari wisata mas turizem menjadi wisata desa. Untuk itu, mesti memaksimalkan potensi yang ada. “Di Tanjung Paku, kami sedang melakukan pendekatan menuju desa wisata, dari pokdarwis taman kitiran, saat ini sudah menjadi desa wisata kampung wisata Tanjung Paku. Bahkan sudah mendapatkan SK dari pemerintah Kota Solok,” jelasnya. (Ant)

Lihat juga...