1.500 Ton Sampah Diproduksi Setiap Hari di Bandung

Editor: Makmun Hidayat

BANDUNG — Problem pengelolaan sampah merupakan masalah pelik yang selalu ada di hampir setiap daerah di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung. Di wilayah Ibu Kota Provinsi Jawa Barat tersebut, ada sebanyak 1.500 ton sampah diproduksi setiap harinya.

Menurut Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, sampah organik masih sangat mendominasi, yaitu sebanyak 60 persen dari total keseluruhannya, sementara sampah anorganik sebanyak 30 persen, dan 10 persen sisanya adalah residu.

“Kalau sampah anorganik yang memang memiliki nilai ekonomis itu relatif selesai di rumah masing-masing. Namun yang masih jadi masalah itu sampah jenis organik dan residu,” ujar Yana dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Rabu (6/10/2021).

Pemerintah Kota Bandung sendiri, lanjut Yana, masih terus mencari serta menguji coba beberapa teknologi yang efektif dan aman untuk penanganan sampah, khususnya yang organik, di Kota Bandung.

“Salah satunya kita sudah lakukan uji coba insenerator di Pusat Daur Ulang Cicabe yang merupakan hasil kerja sama Pemkot Bandung dengan Kota Kawasaki Jepang. Kerja sama ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Kota Bandung,” tandas Yana.

Ia mengakui, dengan teknologi insenarator yang dikembangkan mampu menyelesaikan sampah residu. Sehingga tidak ada sampah yang diangkut ke TPA.

“Dengan teknologi dikembangkan ini bisa menyelesaikan residu sehingga betul-betul tidak ada sampah yang terangkut ke TPA. Karena bisa bayangkan jika Sarimukti itu ditutup dan tidak diperpanjang. Bisa kita bayangkan, 1.500 ton itu sampah setara 1 lapangan sepak bola tingginya 75 cm,” ungkapnya.

Pada keterangan yang sama, Ketua Peneliti Kolaborasi Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Hikari Shoji, Mohamad Satori mengatakan, insenerator ini diawali dengan keinginan Wali Kota Bandung, Oded M. Danial ketika berkunjung ke Kota Kawasaki.

“Ada satu alternatif untuk memusnahkan residu. Maka merespon itu mencari beberapa alternatif. Kerjasama dengan perguruan tinggi salah satunya dengan Unisba. Kami mencoba meneliti dan harus menguji coba dan memverivikasi secara teknis maupun ekologis,” bebernya.

Insenerator tersebut memiliki kapasitas 30-35 kg setiap jamnya dengan pengoperasiannya masih dalam observasi.

“Untuk pengoperasiannya, listrik itu untuk menyalakan panel serta juga BBM digunakan. Untuk pengematannya, starting itu harus pakai bahan mudah terbakar seperti batok atau kayu,” tuturnya.

Lihat juga...