Aceh Targetkan Produksi 18 Ton Benih Padi hingga Akhir 2021

BANDA ACEH — Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh menargetkan produksi 18 ton benih padi hingga akhir 2021, yang sudah dihasilkan sejauh ini mencapai 14 ton benih.

“Kita targetkan sebanyak 18 ton benih tahun ini, dan sekarang hanya tersisa empat ton lagi,” kata Penanggung Jawab Unit Pengelolaan Benih Sumber BPTP Aceh Firdaus di Banda Aceh, Jumat (1/10/2021).

Menurut dia 14 ton benih padi yang telah dihasilkan BPTP Aceh tersebut terdiri dari varietas mantap label biru benih sebar empat ton, kemudian varietas Inpari 32 label biru benih sebar sebanyak enam ton, dan terakhir varietas inpari 30 label ungu benih sumber sekitar empat ton.

“Jadi stok di UPBS BPTP Aceh sekarang itu ada 10 ton untuk benih sebar dan sebanyak empat ton untuk benih sumber,” ujarnya.

Dikatakannya, untuk empat ton yang tersisa dari target 18 ton merupakan benih padi untuk sumber (yang dapat dijadikan benih lagi), dan saat ini masih dalam masa berbunga.

Benih padi jenis sebar tersebut digunakan untuk konsumsi, namun tidak bisa diproses ulang menjadi benih lagi. Sedangkan benih sumber digunakan petani untuk diproses ulang menjadi benih kembali.

Produksi benih tersebut, tambahnya, dipanenkan dari total lahan penangkar seluas empat hektar yang berada di kawasan Gampong (desa) Aneuk Glee Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar.

“Jadi semua lokasi penangkar untuk benih padi 2021 ini dari lahan seluas delapan hektare, dan ini bekerja sama dengan kelompok tani setempat,” kata Firdaus.

Dia menjelaskan, proses produksi benih padi cukup lama, di mana setelah panen harus dilakukan tahapan pengeringan hingga tersisa 12 persen kadar air, kemudian pemeriksaan laboratorium sampai dikeluarkan label.

“Proses dari panen hingga keluar label benih itu sampai satu bulan lamanya, karena dia menunggu benih itu sampai dibawakan sampel oleh tim verifikasi,” ujarnya.

Produksi benih padi itu, tambahnya, biasa dilakukan saat masuk musim tanam, sehingga bisa meminimalisir dari risiko alam seperti kekeringan, serta terhindar dari ancaman hama.

“Kalau bukan pada musim tanam seperti hari ini, maka akan ada ancaman serangan hama terutama tikus, dan itu kita harus ekstra hati-hati menjaganya,” katanya. (Ant)

Lihat juga...