ANBK Jenjang SMP di Yogyakarta Hampir tidak Ada Kendala

YOGYAKARTA — Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta menyebut hampir tidak ada kendala dalam pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer jenjang SMP, baik dari kehadiran siswa, pelaksanaan protokol kesehatan hingga akses internet.

“Hanya ada kejadian mati listrik pada Selasa (5/10). Ada satu sekolah yang terpengaruh. Selebihnya, pelaksanaannya berjalan lancar baik di sekolah negeri maupun swasta hingga hari ini,” kata Pelaksana Tugas Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta Hasyim di Yogyakarta, Rabu (6/10/2021).

Mati listrik di wilayah Gayam tersebut terjadi saat siswa mengerjakan ANBK untuk survei lingkungan belajar.

“Karena siswa belum sempat melakukan submit jawaban saat listrik mati, maka ANBK akan diulang pada hari lain,” katanya.

ANBK jenjang SMP di Kota Yogyakarta dimulai pada Senin (4/10) hingga Kamis (7/10) yang diselenggarakan dalam dua gelombang, masing-masing dua hari.

Sekolah bisa memilih untuk menyelenggarakan ANBK pada gelombang pertama atau kedua, tergantung kondisi dan kesiapan masing-masing sekolah karena ANBK diselenggarakan semi-daring yang mewajibkan penerapan protokol kesehatan ketat.

Total siswa jenjang SMP dan MTs di Kota Yogyakarta yang mengikuti UNBK tercatat 2.269 siswa. Setiap sekolah mengajukan 45 siswa kelas 8 sebagai peserta utama ditambah lima siswa sebagai peserta cadangan.

Setiap siswa mengerjakan tiga jenis asesmen yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang terdiri dari kompetensi numerasi dan literasi ditambah survei karakter dan survei lingkungan belajar.

“ANBK ini sama sekali tidak akan mempengaruhi nilai sekolah siswa karena ditujukan untuk pemetaan kondisi pembelajaran secara nasional,” katanya.

Khusus untuk ANBK survei lingkungan belajar, tidak hanya dikerjakan oleh siswa tetapi juga oleh seluruh guru dan kepala sekolah. “Semua guru dan kepala sekolah wajib mengerjakan survei lingkungan sekolah,” katanya.

Hasyim pun memastikan, protokol kesehatan penyelenggaraan ANBK dilakukan secara ketat dan disiplin yaitu setiap ruang diisi maksimal 15 siswa.

“Siswa juga wajib diantar jemput oleh orangtua atau wali. Selalu memakai masker, melakukan pengecekan suhu dan sebelumnya sudah melakukan skrining kesehatan,” katanya.

Sementara itu, SMP Negeri 8 Yogyakarta memilih menyewa genset selama dua hari untuk mengantisipasi jika terjadi pemadaman listrik yang akan mempengaruhi pelaksanaan ANBK.

“Kami memilih melaksanakan ANBK pada gelombang dua karena dari Kemendikbud memang dimungkinkan untuk memilih hari pelaksanaan ANBK,” kata Kepala SMP Negeri 8 Yogyakarta Retna Wuryaningsih.

Di SMP Negeri 8 juga terdapat lima siswa dari SMP Bhinneka Tunggal Ika (BTI) yang ikut melaksanakan ANBK di sekolah tersebut sehingga total terdapat empat ruangan yang digunakan. Tiga ruangan untuk siswa SMP 8 dengan maksimal satu kelas 15 anak, dan satu ruangan lain untuk siswa SMP BTI.

“Ada 45 siswa yang menjadi peserta utama dan lima cadangan. Siswa yang menjadi cadangan pun tetap datang ke sekolah. Jika siswa utama hadir semua, maka lima siswa cadangan ini bisa menghubungi orang tua untuk dijemput,” katanya.

Sementara itu Koordinator Forum Pemantau Independen Pemerintah Kota Yogyakarta Wahyu Wijayanto yang melakukan peninjauan ANBK di sejumlah sekolah mengingatkan agar protokol kesehatan harus diutamakan. (Ant)

Lihat juga...