Antisipasi Kasus Kekerasan dan Pelecehan, Kampus di Jogja Bentuk Satgas 

Editor: Maha Deva

YOGYAKARTA – Munculnya sejumlah kasus kekerasan hingga pelecehan seksual, di sejumlah perguruan tinggi Indonesia sejak beberapa waktu terakhir, menjadi perhatian serius sejumlah kampus di Yogyakarta. 

Sebagai antisipasi, sejumlah kampus di kota pelajar mengaku telah mengambil langkah strategis dan membuat kebijakan baru. Dengan harapan, hal semacam itu tidak muncul dan terjadi di kampus mereka.  Seperti dilakukan Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY). Perguruan Tinggi Islam berwawasan kebangsaan ini, mengaku saat ini tengah memproses pembentukan satgas anti kekerasan dan pelecehan, di lingkungan kampus mereka.

“Kita sedang membentuk satu tim khusus, untuk mengawal tugas-tugas semacam ini. Nantinya tim ini tidak hanya akan mengawasi mahasiswa saja. Tapi semua pihak, baik dosen maupun tenaga kependidikan. Karena kasus semacam ini, dimungkinkan terjadi di kampus manapun dan oleh siapa-pun,” ungkap Rektor UCY, Dr Ciptasari Prabawanti SPsi MSc PhD, di sela kegiatan Dies Natalis UCY ke 42, Sabtu (30/10/2021).

Menurut Ciptasari, upaya untuk mencegah terjadinya aksi-aksi kekerasan, pelecehan, ataupun bullying di lingkungan kampus, sebenarnya sudah banyak dilakukan pihak kampus sejak lama.  Bahkan sebenarnya, dalam setiap penyelenggaraan kegiatan mahasiswa, seperti masa pengenalan mahasiswa baru, juga telah diatur ketentuannya oleh negara dalam hal ini Dikti. Ketentuan-ketentuan ini dibuat untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, baik kekerasan, pelecehan ataupun bullying.

“Karena itu kita juga tengah mengembangkan peraturan terkait hal ini. Ya untuk menghindari hal-hal semacam ini. Karena memang antara perploncoan dan pembulyan atau pelecehan itu kan perbedaannya sangat tipis. Sehingga peraturan harus ditegakkan dengan melihat semua sisi,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui dunia pendidikan Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya sejumlah kasus kekerasan dan pelecehan seksual di sejumlah kampus. Di Surakarta, seorang mahasiswa Universitas Negri Surakarta (UNS), diketahui meningal dunia saat mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Resimen Mahasiswa (Menwa) pada Senin (25/20/2021) lalu.

Sementara itu di Serang, dua orang mahasiswi Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta), diketahui menjadi korban pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Presiden Mahasiswa (Presma) Untirta pada 29 Agustus 2021 lalu. Tak hanya itu, pada April 2021, seorang Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (Unej), diketahui telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pencabulan terhadap keponakannya sendiri yang merupakan mahasiswa kampus tersebut.

Selain itu, Rektor Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, diketahui mengaku telah melakukan pelecehan seksual pada seorang dosen wanita berinisial HI, di sebuah hotel di Pasuruan dalam sebuah acara diklat. Meski ia Iantas mengundurkan diri lantaran permintaan pihak yayasan.

Melihat banyaknya kasus semacam itu, jajaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, langsung membuat kebijakan dengan mengeluarkan Permendikbud No.30/2021, tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.  Aturan yang diteken Mendikbud Nadiem Makarim pada 31 Agustus 2021 itu berlaku mulai 3 September 2021. Antara lain berisi ketentuan penindakan bagi pelaku kekerasan seksual di perguruan tinggi. Mulai dari sanksi administratif ringan, seperti pencabutan beasiswa, hingga berat, misalnya pemecatan dari lingkungan kampus.

Lihat juga...