Antisipasi Ledakan Covid-19, RS di Semarang Perkuat Ketahanan Oksigen

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Oksigen menjadi kebutuhan mendasar dalam penanganan pasien covid-19. Jika terjadi kekosongan stok, bisa dipastikan berakibat fatal bagi keselamatan pasien. Seperti halnya saat terjadi lonjakan kasus pada Juli 2021 lalu.

“Mengantisipasi adanya lonjakan pasien covid-19, seperti pada gelombang kedua di bulan Juli 2021 lalu, kita sudah mulai mempersiapkan diri. Mulai dari peningkatan kapasitas ruang ICU, kamar perawatan atau pun stok oksigen,” papar Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan dan Penelitian RSUP dr. Kariadi Semarang, Dr. dr. Dodik Tugasworo Pramukarso, saat ditemui di sela penerimaan bantuan tabung oksigen di kantor perwakilan wilayah (KPw) Bank Indonesia Jateng, Semarang, Jumat (8/10/2021).

Dipaparkan, dengan persiapan tersebut, jika terjadi lonjakan gelombang ketiga, meskipun hal tersebut tidak diharapkannya, rumah sakit sudah bersiap sehingga kejadian seperti halnya pada kasus gelombang kedua tidak terjadi.

“Setidaknya kita harapkan tidak kerepotan lagi dengan ketersediaan oksigen, seperti halnya kasus yang lalu. Di RSUP dr. Kariadi, sudah memakai oksigen cair dengan kapasitas 8 ribu liter, selain itu juga ada stok tabung oksigen konvensional. Jadi pada saat lalu kita juga tidak ada kendala,” lanjutnya.

Dodik menjelaskan saat ini kasus covid-19 di Jateng sudah relatif landai, setidaknya tergambarkan dari jumlah pasien covid-19 yang mereka tangani.

“Kita sebagai rumah sakit rujukan di Jateng, biasanya menerima pasien dari rumah sakit lain se-Jateng, terutama untuk pasien dengan kategori berat. Untuk saat ini, jumlah pasien yang kita tangani sudah turun signifikan, per hari ini (Jumat-red) hanya ada 11 pasien. Angka ini jauh menurun, dibanding periode Juli lalu yang mencapai 400-an pasien,” tambahnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga sudah menyiapkan sebanyak 470 ruangan yang bisa diubah menjadi ruang bertekanan negatif, untuk merawat pasien covid-19.

Dijelaskan, ruang bertekanan udara negatif merupakan ruangan isolasi yang dilengkapi alat khusus untuk menyedot aerosol, sehingga jika ada aerosol di dalam ruangan, tidak akan sampai keluar.

Ruangan bertekanan udara negatif ini akan mengurangi kontak perawat, paramedis, dan dokter secara efektif, sehingga menurunkan kemungkinan penularan.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Dr. Abdul Hakam saat dihubungi juga menandaskan hal senada.

“Covid-19 ini sifatnya fluktuatif. Saat ini bisa turun, namun selanjutnya tiba-tiba naik, untuk itu kita perlu persiapan dalam menghadapinya, jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus. Termasuk dengan memperkuat kesiapan rumah sakit di Kota Semarang,” terangnya.

Kesiapan tersebut, selain ruangan, juga perlu didukung oleh penunjang lainnya, termasuk ketersediaan oksigen.

“Kita sudah minta agar rumah sakit rujukan pasien covid-19 di Kota Semarang, seperti RSUD KRMT Wongsonegoro dan rumah sakit lainnya, untuk mempersiapkan ini, dengan menyediakan tangki oksigen berkapasitas besar,” ungkapnya.

Termasuk untuk mengubah ruangan yang semula untuk pasien umum, menjadi khusus pasien covid-19.

“Sudah dipersiapkan semua, jadi jika sewaktu-waktu lonjakan terjadi. Kita sudah siap, sehingga angka keterisian tempat tidur bisa ditekan, jika pasien bisa langsung ditangani,” pungkasnya.

Lihat juga...