Arah Strategi Ekonomi Jabar Pascapandemi, Investasi Jadi Unggulan

Editor: Makmun Hidayat

BANDUNG — Arah ekonomi baru Jawa Barat pascapandemi COVID-19, dengan berbagai strategi dalam rangka pemulihan ekonomi daerah, menjadikan investasi sebagai unggulan di Jabar. Ridwan Kamil bertekad Jabar juara investasi Asia Tenggara.

“Kami ingin belajar. Juara- juara investasi di ASEAN itu apa kelebihannya. Kami ingin go ASEAN,” ungkap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dalam  webinar Komite Pemulihan Ekonomi Daerah, Selasa  (19/10/2021).

Kedua, di bidang kesehatan. Menurut Ridwan Kamil, Jabar masih kurang rasio pelayanan kesehatan. Secara teori Jabar butuh tambahan 25 rumah sakit skala besar, serta 5.000 klinik/puskesmas berbasis desa sebagai garda terdepan sebelum masyarakat masuk ke rumah sakit. Kesehatan penting karena jika warganya semua sakit maka ekonomi tidak akan jalan.

Ketiga, kedaulatan pangan. Kang Emil bilang Jabar butuh gagasan agar neraca pangan bisa mandiri.

“Kalau untuk padi kita sudah swasembada, tapi urusan telur, ayam, daging sapi, bawang kita belum dimaksimalkan untuk memenuhi ketahanan pangan,” katanya.

Keempat, revolusi digital di era industri 4.0. Kata Kang Emil, Jabar terus berproses hingga saat ini teknologi digital telah mewarnai sebagian besar kehidupan masyarakat.

Kelima, ekonomi berkelanjutan (green economy) terus diupayakan. “Mobil listrik sudah, saya diangkat sebagai ketua organisasi daerah- daerah penghasil migas,” kata Ridwan Kamil.

Kemudian Jabar, kata Gubernur, telah menjadi role model sebagai satu- satunya dari 34 provinsi di Indonesia yang berhasil memaksa kontraktor minyak menyumbang partisipatif interest (PI) sebesar 10 persen.

Terakhir, yakni regional tourism. Kang Emil mengungkap di Jabar ada dua kawasan ekonomi khusus (KEK) yakni Metropolitan Rebana dan KEK Lido yang salah satunya akan mengembangkan pariwisata.

Sementara dalam penanganan kesehatan tetap dilakukan dengan beriringan dengan pemulihan ekonomi. Tercatat ekspor Jabar di bulan Agustus mencapai USD2,95 miliar.

“Jadi bulan Agustus ekspor naik 16,24 persen dibanding bulan Juli,” katanya.

Sementara nilai impor Jabar di angka USD1 miliar, atau naik 4,33 persen dibandingkan Juli. Sehingga ekonomi Jawa Barat dari kacamata perdagangan surplus sebesar USD1,95 miliar.

Sebagai bagian dari pemulihan ekonomi, Jabar terus menggenjot investasi baik dalam negeri dan asing. Salah upayanya adalah  Pemda Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Barat untuk ketiga kalinya menggelar West Java Investment Summit (WJIS) pada 21-22 Oktober 2021.

Lihat juga...