Bantaran Sungai Taman Wisata Pleret Rawan Banjir

BANTUL  – Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan bantaran Sungai Opak di kawasan taman wisata Senja Ngelo Dusun Kanoman, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul rawan banjir akibat luapan air sungai itu ketika musim hujan.

“Kalau banjir ini fase tahunan, cuma kalau banjir besar lima tahunan, seperti di daerah sini (Taman Ngelo, red.) kalau banjir bisa sampai sana (pemukiman warga, red.) dari bibir sungai sampai sana kurang lebih 200 meter,” kata Komandan SAR DIY Distrik Bantul, Bondan Supriyanto saat meninjau taman wisata Senja Ngelo di Bantul, Senin.

Bahkan, katanya, saat banjir besar akibat hujan deras dampak badai Siklon Tropis Cempaka 2017, sejumlah lokasi bantaran Sungai Opak di wilayah Pleret tenggelam, misalnya di Karang Gayam dan Kanoman yang saat ini tumbuh kegiatan wisata, sehingga perlu diantisipasi dampak banjir.

Terkait dengan kondisi kawasan taman wisata yang rawan banjir tersebut, Tim SAR sudah menyampaikan ke pemerintah daerah setempat, agar dapat mengantisipasi supaya tidak terjadi korban jiwa atau materiil mengingat tidak lama lagi wilayah DIY, termasuk Bantul, memasuki musim hujan.

“Sudah kami sampaikan, kalau situasi kondisi banjir menurut ‘assesment’ (penilaian) dari SAR DIY sini (Taman Ngelo, red.) memang rawan banjir dengan kedalaman hingga tiga meter kalau yang di bibir sungai,” katanya.

Bondan mengatakan hal itu agar kalangan pelaku pariwisata atau masyarakat yang sudah berkorban mengembangkan kawasan dengan membangun fasilitas dan sarana umum tidak menjadi korban dan menderita kerugian akibat banjir.

“Kita kan kasihan dengan teman-teman yang membuat tempat-tempat seperti itu. Memang banjir besar fase lima tahunan, tetapi ini sudah masuk fasenya, dan bulan depan kemungkinan hujan besar, sebenarnya ini yang boleh tahu dari Tim SAR,” katanya.

Dia berharap, kajian dari Tim SAR DIY yang menyebutkan bahwa bantaran Sungai Opak di Pleret ini, jangan dinilai sebagai ancaman yang meresahkan masyarakat, melainkan dijadikan edukasi bagi masyarakat, termasuk pengelola, agar bisa meminimalkan dampak kejadian.

“Pihak pengelola seharusnya koordinasi dengan Tim SAR, minta pendapat bagaimana kalau dibangun wahana, ke depannya membahayakan masyarakat atau bangunan itu sendiri tidak, cuma persoalannya belum ada koordinasi, langsung bangun-bangun mengikuti perkembangan,” katanya. (Ant)

Lihat juga...