Berkat ‘Modal Kita’ Kantirah Bisa Berjualan Jamu dan Aneka Makanan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Pagi itu, Kantirah (55) nampak sibuk menumbuk aneka macam rempah jamu menggunakan lumpang batu. Bertempat di rumah sederhana miliknya di Dusun Sengon Karang RT 03 Argomulyo, Sedayu, Bantul, Kantirah biasa membuat jamu tradisional setiap hari mulai dari pagi hingga menjelang sore hari.

Begitu selesai, ia biasanya akan menjajakan jamu buatannya itu dengan cara berkeliling ke kampung-kampung di sekitar tempat tinggalnya dengan menggunakan sepeda miliknya. Ia baru akan pulang ke rumah saat matahari telah terbenam sekitar pukul 18.00-19.00 WIB.

“Ada berbagai macam jamu yang saya jual, mulai dari beras kencur, kunir asem, hingga jamu uyup-uyup yang sangat bagus untuk ibu menyusui,” ujarnya kepada Cendana News, Jumat (8/10/2021).

Kantirah merupakan satu dari sekian banyak pedagang jamu tradisional yang ada di Dusun Sengon Karang. Setidaknya terdapat 30 orang lebih warga di dusun ini yang bekerja sebagai pembuat sekaligus pedagang jamu keliling. Mereka tergabung dalam paguyuban pedagang jamu tradisional Seruni Putih.

Sebagaimana dirasakan pelaku usaha lainnya, usaha jamu tradisional yang dijalankan Kantirah mendapatkan pukulan berat selama pandemi Covid-19. Menurunnya daya beli masyarakat ikut mempengaruhi omzet penjualan jamu tradisional Kantirah yang juga tercatat mengalami penurunan.

Beruntung, adanya akses pinjaman modal usaha dari Unit Modal Kita Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo, sebagai bagian program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) yang dijalankan Yayasan Damandiri, membuat usaha jamu tradisional warga Dusun Sengon Karang termasuk Kantirah bisa tetap bertahan.

Kerja sama antara koperasi serta paguyuban Seruni Putih memungkinkan puluhan pedagang jamu tradisional bisa mendapatkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha mereka.

Kantirah sendiri, mengaku sudah 3 tahun terakhir memanfaatkan pinjaman modal usaha dari Unit Modal Kita Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo.

Berkat adanya bantuan pinjaman modal usaha ini, Kantirah kini tak hanya menjual produk jamu tradisional saja. Pasalnya ia kini juga mulai mengembangkan usahanya dengan berjualan aneka makanan seperti bakmi, pecel hingga aneka gorengan. Meski terbilang sederhana, namun upaya ini bisa membuat pemasukannya menjadi semakin meningkat.

“Saya sudah pinjam modal usaha ke koperasi sebanyak 3 kali. Mulai dari Rp1 juta, Rp2 juta dan Rp3 juta. Ya untuk tambahan modal. Lumayanlah sekarang, dari berjualan jamu dan makanan omzet bisa mencapai Rp300 ribu per hari,” katanya.

Kantirah mengaku meminjam modal usaha di koperasi karyawan dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari syarat yang mudah, proses yang cepat, serta bunga pinjaman yang tidak jauh berbeda dengan pinjaman lainnya.

“Selain itu kan pinjaman ini dikelola oleh kelompok pedagang jamu di Dusun Sengon Karang sendiri. Jadi ya lebih enak. Karena sudah lama saling kenal. Jadi ada rasa saling percaya,” ungkapnya.

Kantirah berharap, agar ke depan, Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo sebagai koperasi binaan Yayasan Damandiri, tidak hanya sekadar memberikan bantuan berupa pinjaman modal usaha saja.

Namun juga dapat memberikan bantuan lainnya baik itu pelatihan-pelatihan, maupun bantuan hibah sarana prasarana pendukung lainnya.

Lihat juga...