Capaian Vaksinasi Dosis Kedua di 21 Provinsi di Bawah 30 Persen

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, saat menyampaikan keterangan pers perkembangan COVID-19 harian yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Kamis (28/10/2021) – foto Ant

JAKARTA – Capaian vaksinasi dosis kedua di 21 provinsi, masih di bawah 30 persen. Sehingga perlu digenjot, demi memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat.

“Masih terdapat 21 provinsi yang capaiannya kurang dari 30 persen. Mengantisipasi kenaikan kasus pada periode Natal dan tahun baru mendatang, penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan maksimal terhadap COVID-19 melalui vaksinasi dosis penuh,” ujar Juru Bicara Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito , Kamis (28/10/2021).

Berdasarkan data dari Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), per-24 Oktober 2021, capaian vaksinasi dosis pertama di Indonesia baru 54,27 persen. Sedangkan untuk dosis kedua mencapai 33,89 persen.

Terdapat 12 provinsi yang telah mencapai cakupan vaksinasi dosis kedua di atas 30 persen yaitu, DKI Jakarta, Bali, D.I. Yogyakarta, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Timur, Jambi, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. “Bahkan DKI Jakarta, Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 50 persen penduduknya telah di vaksin dosis penuh,” tandasnya.

Maka dari itu, pemerintah daerah yang cakupan vaksinasi dosis keduanya kurang dari 30 persen, diimbau untuk menggenjotnya. Sebab, vaksinasi dosis penuh, dapat meminimalisir gejala berat, sehingga yang terkonfirmasi positif tidak harus dirawat di fasilitas kesehatan.

Di samping itu, Pemerintah juga tak lelah untuk terus mengingatkan agar seluruh lapisan masyarakat wajib untuk menerapkan disiplin protokol kesehatan. Terlebih di tengah aktivitas dan mobilitas yang semakin meningkat, imbas melandainya kasus terkonfirmasi positif. “Jika setiap orang bertanggung jawab untuk memakai masker, rajin mencuci tangan, dan sebisa mungkin menghindari kerumunan, saya yakin tantangan ke depan yang akan kita hadapi seperti periode Natal dan tahun baru tidak akan menyebabkan ledakan kasus COVID-19,” tandasnya.

Wiku mengatakan, kenaikan mobilitas saat periode libur Natal dan tahun baru, menjadi tantangan mempertahankan penurunan kasus yang tengah berlangsung. Libur Natal dan tahun baru, menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan kasus COVID-19. Pasalnya, terjadi kenaikan mobilitas masyarakat untuk berlibur dari satu tempat ke tempat lain. “Kondisi kasus Indonesia yang saat ini sedang berada di titik terendah dan telah menurun selama 15 pekan, perlu kita pertahankan agar tidak kembali meningkat pada saat periode Natal dan tahun baru,” ujar Wiku. (Ant)

Lihat juga...