Dampak Ekonomi Perubahan Iklim Capai Kerugian Rp554 Triliun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Dunia, termasuk juga Indonesia, kini tengah dihantui ancaman serius dampak perubahan iklim. Berdasarkan kajian yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga Rp554 triliun dalam kurun waktu 2020-2024 mendatang.

“Setidaknya perubahan iklim ini menyebabkan meningkatnya angka kecelakaan kapal dan genangan pantai, penurunan ketersediaan air, penurunan produksi beras, dan peningkatan kasus demam berdarah. Kasus-kasus ini yang berpotensi merugikan ekonomi nasional,” ujar Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, Medrilzam dalam webinar bertajuk Pembangunan Berketahanan Iklim untuk Kurangi Kerugian Ekonomi, yang diikuti Cendana News, Selasa (12/10/2021).

Medrilzam mengungkapkan, bahwa ada empat sektor ekonomi yang paling terdampak akibat perubahan iklim, yakni sektor Pesisir dan Laut berpotensi rugi Rp408 triliun, Pertanian Rp78 triliun, Kesehatan Rp31 triliun, dan Air Rp28 triliun.

“Kalau kita tidak melakukan intervensi yang serius terhadap masalah perubahan iklim ini dengan kata lain masih melakukan business as usual, maka dampak terburuk pasti akan kita alami,” jelas Medrilzam.

Meski demikian, Bappenas melaporkan, bahwa pada tahun 2020 lalu, pemerintah telah dinilai cukup berhasil menjalankan program ketahanan iklim, di mana dampak kerugian ekonomi menurun hingga Rp44,39 triliun atau 84 persen dari target yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Ada 170 aksi ketahanan iklim yang kita lakukan di empat sektor prioritas tadi, di mana penurunan kerugian ekonomi dari sektor pesisir dan laut mencapai Rp27,35 triliun dari target penurunan Rp39,49 triliun. Sektor air mencapai Rp0,91 triliun dari target Rp1,37 triliun. Sektor kesehatan mencapai Rp0,39 triliun dari target Rp3,66 triliun. Dan sektor pertanian yang capaiannya Rp15,75 triliun melebihi target yakni Rp8,38 triliun,” papar Medrilzam.

Lihat juga...