DAS Ria Wajo di Sikka Perlu Penataan Cegah Banjir

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Daerah Aliran Sungai (DAS) Ria Wajo yang membentang di taga kecamatan, yakni Mego, Paga dan Tana Wawo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur,  perlu dilakukan penataan, guna mencegah terjadinya luapan air kali.

“Harus ada kebijakan yang dibuat pemerintah agar bisa mengeliminir dampak terjadinya bencana banjir di DAS Ria Wajo,” saran Edward Lodovic da Gomez, pemerhati lingkungan dalam diskusi Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) di aula kantor BPBD Sikka, di Madawat, Maumere, Rabu (13/10/2021).

Vicky, sapaannya, mengatakan DAS Ria Wajo ini kalau musim hujan dengan curah hujan tinggi akan menyebabkan banjir di kali dan meluap. Bahkan, banjir bandang pada 17 Januari 2021 lalu mengakibatkan korban jiwa, kerusakan bangunan rumah serta jembatan gantung di Desa Khorobera terbawa banjir.

Pemerhati bencana yang juga jurnalis, Edward Lodovic da Gomes, saat diskusi FPPB Kabupaten Sikka, NTT di aula kantor BPBD Sikka, Madawat, Maumere, Rabu (13/10/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Harus dicari cara dan Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) harus mendorong pemerintah agar memiliki kemauan untuk melakukan intervensi, guna mengurangi risiko terjadinya bencana,” sarannya.

Vicky menyebutkan, anggaran di kantor BPBD Sikka tahun 2020 sebesar Rp3 miliar, di mana Rp2 miliar digunakan untuk biaya operasional dan gaji pegawai, sementara sisanya Rp1 miliar untuk penanggulangan bencana.

Lanjutnya, pada 2021 dana yang ada di kantor ini hanya sebesar Rp200 juta untuk biaya operasional kantor saja, sehingga saat terjadi bencana BPBD Sikka tidak cepat bertindak.

“FPPB harus menjadi ikon di luar pemerintah untuk menanggulangi bencana. FPPB harus menjadi mitra yang baik untuk melakukan mitigasi bencana,” imbaunya.

Kepala Desa Tuwa, Kecamatan  Tana Wawo, Ferdinandes Y. Wula, menyebutkan sejak  2018 pemerintah desa telah menganggarkan dana desa untuk melakukan penghijauan lewat tanaman pelindung.

Ferdinandes menambahkan, pada 2000 hingga hingga 2021, desa tidak bisa berbuat banyak karena dana desa dialokasikan untuk penanggulangan Covid-19.

Ia menyarankan, paling tidak beberapa desa di sekitar DAS Ria Wajo menyisihkan anggaran untuk penanggulangan bencana.

“Harus ada dialog antardesa di sekitar DAS Ria Wajo untuk menganggarkan dana, guna pencegahan dan penanggulangan bencana. Pemerintah atau FPPB Sikka bisa memfasilitasinya,” pintanya.

Lihat juga...