Dosen Unej Dorong Budayawan Mengajar di Perguruan Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SITUBONDO – Tradisi mamaca merupakan salah satu kebudayaan yang tumbuh di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Mamaca berasal dari bahasa Madura yang berarti membaca, tumbuh sebagai budaya sebagaimana macapat  jika di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keberadaan budaya tersebut mendapat perhatian khusus  salah satu Dosen Universitas Jember agar dapat diperkenalkan kepada kalangan mahasiswa di perguruan tinggi.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, Dr. Agustina Dewi, M. Hum mengatakan, kesenian mamaca yang ada di Situbondo menjadi warisan yang cukup penting untuk tetap dilestarikan. Agar masyarakat luas mengetahui bahwa Kabupaten Situbondo juga memiliki kebudayaan unik dan sakral, yakni mamaca.

“Kami mendorong agar para budayawan terlibat langsung dalam memperkenalkan budaya mamaca. Salah satunya mengajarkan langsung kepada mahasiswa di kelas,” ujar Dr. Agustina Desi, M. Hum kepada Cendana News, di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Situbondo, Kamis (14/10/2021).

Dewi mengatakan, keterlibatan para budayawan mamaca di ruang kelas menjadi ruang belajar intensif bagi mahasiswa. Sebab, mempelajari mamaca sendiri bisa mengalami kesulitan besar apabila tidak dilakukan oleh mereka yang sudah mahir melantunkan bacaan mamaca.

“Dosen bisa memperkenalkan apa itu budaya mamaca. Namun tidak bisa dipungkiri, jika itu hanya bisa disampaikan sebatas teori yang diajarkan di dalam ruang kelas saja. Maka, mahasiswa akan mengenalnya hanya sebatas teori saja dari out put yang diajarkan di dalam kelas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dewi mengatakan, mempelajari kebudayaan mamaca, tidak bisa dilakukan begitu saja. Harus dilatih oleh budayawan yang sudah mahir di bidangnya. Sebab, cara maupun literasi yang dibutuhkan sulit untuk dipelajari bagi mereka yang masih belum mengenal mamaca.

“Literasi dan cara bacanya itu ada ketentuan khusus. Dari teks bacaannya dan intonasi suaranya ada aturan tersendiri. Pada intinya, sulit dilakukan bagi mereka yang ingin belajar mamaca kalau tidak dibimbing langsung oleh yang sudah mahir,” jelasnya.

Dewi menambahkan, mamaca bukan hanya sekadar budaya lokal yang dilahirkan dan dilestarikan secara turun menurun. Namun, ada nilai sakral di dalamnya.

Secara terpisah, Innaya, warga Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, Situbondo mengatakan, mamaca banyak dilakukan dalam kegiatan-kegiatan khusus dan sakral. Cara membawakan bisa juga berbeda, berdasarkan kegiatan yang dilakukan.

Innaya, saat ditemui Cendana News di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Situbondo, Kamis (14/10/2021).- Foto: Iwan Feri Yanto

“Biasanya mamaca dilakukan pada saat acara pernikahan, acara selamatan kandungan, dan acara lain. Naskah atau cerita yang dibawakan juga berbeda-beda sesuai dengan permintaan yang punya acara,” ucapnya.

Lihat juga...