Era Pandemi Banyak Sopir Angkot Alih Profesi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Jasa angkutan transpotasi merupakan salah satu sektor yang paling terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Adanya berbagai kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat, membuat banyak pekerja di sektor ini akhirnya memutuskan beralih profesi.

Riki Ardani (38) misalnya, warga Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang dulu bekerja sebagai sopir angkot jurusan Ciparay-Santosa itu terpaksa beralih profesi menjadi tukang cuci motor.

“Mau gimana lagi, jadi sopir angkot di masa corona nggak ada untungnya sama sekali, yang ada rugi uang, rugi tenaga. Seharian cuma dapat Rp10 ribu, buat beli bensin saja tidak cukup,” kata Riki kepada Cendana News, Selasa (12/10/2021) di lokasi Steam Motor Ciparay, di jalan Laswi.

Riki sendiri tak menyesali keputusannya beralih profesi menjadi tukang cuci motor, pasalnya dari pekerjaan itu ia bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan dirinya dan keluarganya.

“Kerja begini sebetulnya tidak jauh beda dengan sopir angkot, penghasilannya tidak tentu, tapi sejauh ini Alhamdulillah untuk menuhin kebutuhan bulanan cukuplah,” tandas Riki.

Menurut Riki, tarif jasa steam satu motor mulai dari Rp15.000 sampai Rp20.000 tergantung jenis kendaraannya. Dari satu kendaraan yang ia cuci, upah yang didapatkannya sebesar Rp10.000, sementara sisanya diberikan kepada pemilik usaha steam.

“Setiap hari ada saja yang nyuci motor. Cuma kalau musim panas memang agak kurang, tapi kalau musim hujan ramai, sehari bisa 20 motor yang saya cuci, bahkan lebih,” tukasnya.

Bukan hanya Riki, Endang Sutiawan rekan kerja Riki pun mengatakan hal yang sama. Ia mengaku sebelumnya juga bekerja sebagai sopir angkot. Namun Endang lebih dulu beralih profesi.

“Sebelum Covid-19 saya sudah berhenti jadi sopir angkot. Saingannya terlalu banyak, mulai dari sesama sopir angkot, delman, belum lagi ojek online. Ditambah, orang-orang sudah pada punya kendaraan sendiri, jadi menurut saya sudah kurang harapan kerja begini,” jelas Endang.

Menurut Endang, saat ini pekerjaan sebagai sopir angkot tidak bisa lagi diandalkan. Kecuali, si sopir memiliki angkot sendiri. Sebab jika tidak, untuk memenuhi setoran kepada pemilik angkot saja akan sangat sulit.

“Saya malah pernah baca di internet kalau pekerjaan sopir angkot itu lima tahun lagi akan hilang. Memang sih kalau dilihat semakin ke sini semakin susah jadi sopir angkot, tapi kalau kayak di Jakarta, sopir angkot di gaji bulanan, saya yakin bisa menyelamatkan profesi ini,” pungkas Endang.

Lihat juga...