Generasi Muda di Flotim Masih Minim Jadi Wirausaha

LARANTUKA — Banyak generasi muda, terutama sarjana yang ada di Kabupaten Flores Timur (Flotim) Nusa Tenggara Timur (NTT) belum mau terjun jadi wirausaha.

Warga Desa Mokantarak, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rikardus Buto Lewar saat ditemui di Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Sabtu (24/9/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Masih banyak peluang usaha yang bisa digarap dengan memanfaatkan potensi yang ada,” sebut Rikardus Buto Lewar, anak muda Desa Mokantarak, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, saat dihubungi Minggu (3/10/2021).

Erik sapaannya menjelaskan, dirinya saja membuka usaha bengkel di Desa Riangkotek dan ternyata banyak pelanggan, meskipun usahanya tersebut berada di desa.

Ia tambahkan, di Desa Riangkotek pun selain dirinya ada anak muda lainnya yang juga membuka usaha bengkel sepeda motor dan ramai.

Menurutnya, banyak hasil komoditi pertanian seperti jambu mete yang ada di desa tersebut, namun petani hanya menjualnya dalam bentuk gelondongan saja atau biji.

“Kalau anak-anak muda mengolahnya hingga menjadi kacang mete dan dijual, maka bisa memberikan pendapatan yang lumayan,” ujarnya.

Erik katakan, harga satu kilogram jambu mete dengan kulit dijual paling mahal Rp15 ribu per kilogram, sementara kalau dikupas harganya bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Ia sebutkan, ini peluang usaha yang bisa mendatangkan pendapatan lumayan termasuk mengolah produk turunan dari kelapa yang banyak terdapat di desa ini.

“Daripada setelah kuliah kembali ke desa dan menganggur, lebih baik mencari peluang usaha yang bisa mendatangkan pendapatan. Banyak usaha yang bisa dijalani asal ada kemauan,” ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ferdy Lewoema pemilik Kedai Rumah Kita Waihali di Kota Larantuka yang berani membuka usaha, meskipun saat memulainya dihantam pandemi Covid-19.

Ferdy yang juga seorang guru di dua sekolah swasta di Kota Larantuka ini mengakui banyak peluang usaha yang bisa digarap, asal ada kemauan dan tidak gengsi untuk jadi pedagang.

“Saat ini banyak sekali sarjana namun mereka belum berani terjun untuk berwirausaha. Alasan ketiadaan modal bukan suatu alasan, sebab apabila modal terbatas maka kita mulai dari apa yang kita miliki,” ungkapnya.

Ferdy mengakui, dengan membuka kedai yang menjual aneka makanan lokal dirinya pun bisa mempekerjakan beberapa karyawan yang ada di sekitar tempat usahanya.

Ia katakan, meskipun sedang dilanda pandemi Covid-19 namun usaha rumah makannya tetap ada untung setelah dipotong biaya produksi dan tenaga kerja.

“Awalnya saya ragu apakah usaha saya bisa bertahan di tengaha pandemi Corona. Namun ternyata ada keuntungan meskipun tidak seberapa namun tetap saya syukuri,” pungkasnya.

Lihat juga...