Harap-harap Cemas Menanti Pengumuman Seleksi Guru Skema PPPK

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jateng, harap-harap cemas, menanti pengumuman hasil seleksi penerimaan guru melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yang  disampaikan pada Jumat (8/10/2021) besok.

Hal tersebut, seiring keinginan PGRI agar pemerintah menurunkan angka passing grade atau angka kelulusan, serta menambah nilai afirmasi bagi para guru honorer. Dengan demikian, diharapkan ada semakin banyak guru honorer peserta seleksi PPPK, bisa diterima.

Salah satu keluhan soal proses seleksi PPPK, yakni tidak ramah bagi para guru honorer senior. Sebab, menurutnya, sebagian besar dari guru honorer senior tidak mampu mencapai passing grade yang disyaratkan dalam ujian kompetensi teknis (komtek) seleksi PPPK.

Selain itu, nilai afirmasi hanya berkisar antara 50-70 poin saja. Sedangkan, passing grade kemampuan teknis yang harus dicapai berada di kisaran 235-325 poin.

“Sebelum tes, banyak guru yang sudah mendaftar mendapat kartu, namun tidak mendapat tempat, artinya mereka tidak diberi tahu lokasi dan jam pelaksanaan tes, sehingga para pendaftar tersebut akhirnya tidak bisa mengikuti seleksi. Kami sudah mengomunikasikan dengan pansel, ternyata tetap tidak bisa dan gagal mengikuti,” papar Ketua PGRI Jateng, Dr. Muhdi, SH. M.Hum, saat ditemui di Semarang, Kamis (7/10/2021).

Selain itu, dalam seleksi PPPK, juga terdapat perbedaan antara kisi-kisi yang sudah diberikan dengan soal yang diujikan sehingga banyak para peserta banyak kesulitan. Terutama bagi para pendaftar guru honorer senior (tua-red).

“Terkait dengan hal tersebut, kami berkirim surat melalui Pengurus Besar (PB) PGRI, berkomunikasi dengan Komisi X DPR RI, memohon agar besaran afirmasi yang diberikan untuk para guru honorer peserta seleksi PPPK ini ditambah, setidaknya menjadi minimal 30 persen. Selain itu passing grade atau angka kelulusan juga diturunkan,” tandasnya.

Hal tersebut dilakukan, mengingat kesulitan yang ada dihadapi para guru honorer. Selain itu, agar kuota yang diperlukan benar-benar dipenuhi.

“Pemerintah harus mempertimbangkan pengorbanan para guru honorer ini, dalam membantu mencerdaskan generasi bangsa. Terlebih, menurut kami, ada kompetensi-kompetensi yang tidak bisa dinilai melalui tes. Maka penambahan afirmasi dan atau menurunkan passing grade tersebut, menjadi penting,”tegasnya.

Hal tersebut sudah disikapi oleh pemerintah melalui Kemendikbud Ristek, untuk menunda pengumuman seleksi tahap pertama guru skema PPPK. Sekaligus, dilakukan upaya penyesuaian agar para guru honorer bisa diterima melalui PPPK tersebut.

“Dalam dialog yang kita lakukan, disampaikan bahwa Kemendikbud Ristek maupun Men PAN, akan mempertimbangkan penyesuaian tersebut, berupa penambahan nilai afirmasi dan atau penurunan passing grade. Terkait dengan hal tersebut, kita berharap-harap cemas, mudah-mudahan apa yang dijanjikan tersebut benar-benar ditepati,” tandasnya.

Muhdi menandaskan, bahwa pengabdian yang sudah dilakukan oleh para guru honorer juga harus diperhatikan. Untuk itu, pada seleksi guru PPPK tahap kedua, pihaknya sudah mengusulkan agar penerimaan guru skema PPPK bisa dilakukan melalui seleksi portofolio.

“Dalam komunikasi-komunikasi kita sudah mengusulkan untuk PPPK tahun depan, bisa menggunakan portofolio. Untuk mengukur guru yang sudah mengabdi sekian lama, apalagi yang terkait dengan kompetensi akademis, mereka kesulitan,” ucapnya.

Dirinya menilai para guru honorer ini sudah menjadi semacam praktisi, sehingga pengalaman kerja dan mengajar tersebut, bisa menjadi nilai dalam mengukur kompetensi mereka.

“Melalui portofolio ini, bisa dilihat, bagaimana dia mengajar selama ini, apakah sudah baik dan lainnya. Apalagi juga ada penilaian dari kepala sekolah dan pengawas. Ini seharusnya juga dimungkinkan sebagai penilaian seleksi, untuk menjaring guru-guru honorer terbaik,” tegasnya.

Terpisah, Wakil Ketua Forum Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non-Kategori 35 Tahun ke Atas (GTKHNK 35+) Kota Semarang, Zulaikah, saat dihubungi secara terpisah juga menyampaikan hal senada.

“Kita berharap pengumuman hasil seleksi guru skema PPPK, yang akan disampaikan besok (Jumat-red), harapannya mampu mengakomodir teman-teman guru honorer, yang selama ini sudah berjuang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” terangnya.

Disampaikan pula, bahwa kejelasan status tersebut, nantinya juga diharapkan mampu semakin meningkatkan kinerja para guru honorer.

Di satu sisi, pihaknya juga berharap pemerintah memiliki kebijakan lainnya, dengan mengangkat seluruh guru honorer menjadi pegawai PPPK tanpa tes, dan ditempatkan di sekolah induk masing-masing.

“Harapannya seperti itu, apalagi para guru honorer ini juga sudah bertahun-tahun mengajar di satuan pendidikan yang mereka tempati saat ini. Kenapa tidak langsung diangkat saja, buat mereka yang sudah bertahun–tahun mengajar di sekolah tersebut. Ini juga menjadi bentuk penghargaan bagi kami,” tandas wanita yang sudah 15 tahun menjadi guru honorer tersebut.

Lihat juga...